Tribunners
Petikan Majelis Salakan
SALAKAN dipastikan tidak akan keluar jauh dari khittah penguatan imani dan ketakwaan disertai pengetahuan berbasis konstruksi kitab-kitab klasik
Oleh Masmuni Mahatma, Ketua PWNU Kepulauan Bangka Belitung
RAPAT Nasional Majelis SALAKAN (17/05/26) di Surabaya kemarin, ikut menghadirkan petikan harapan dan masa depan kealumnian, keumatan, sekaligus kepesantrenan yang prospektif. Betapa tidak, di tengah merebaknya sejumlah realita miring terkait kehidupan pondok pesantren, masih cukup banyak pengasuh yang peka dan cepat ambil langkah introspektif-antisipatif. Lebih-lebih dalam rangka menjaga, mengawal, dan senantiasa memekarkan nilai-nilai tradisi luhur maupun khazanah moralitas pesantren itu sendiri.
Majelis SALAKAN bukan hal istimewa dalam konteks kebangsaan secara nasional. Ia baru dicipta dan disuguhkan kiai-kiai muda di kalangan salah satu bagian dari Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep, Madura. Tepatnya daerah Lubangsa Raya, dimana pada sebagian area pondok memang tumbuh subur sebarisan pohon salak yang dulunya berasal dari biji salak yang dibawa dari Pondok Pesantren Syaikhona Kholil bin Abdul Latif, Bangkalan. Dalam perspektif tradisi pesantren, biji salak tersebut tentu tak biasa. Diyakini berbalur karomah Syaikhona Kholil.
Selayaknya majelis, tentu SALAKAN dipastikan tidak akan keluar jauh dari khittah penguatan imani dan ketakwaan disertai pengetahuan berbasis konstruksi kitab-kitab klasik. Bahwa awal mula majelis ini diperkenalkan dan diperuntukkan terhadap alumni Lubangsa Raya, hal normal. Sehingga akar paradigmatik-transformatifnya beranjak dari modal dan potensi sosial kepesantrenan-keberagamaan yang shahih serta maslahah. Dari dan bersama alumni, kerangka kerja SALAKAN akan terbangun dengan subur dan kuat, fokus dan produktif.
Catatan Urgen
Launching dan rapat nasional SALAKAN di Aula MAN Kota Surabaya cukup menggugah, meriah, serta berjalan lancar. Hampir seribuan alumni Lubangsa Raya menghadiri dan bersuka cita. Sekira ada yang menyimpan pertanyaan dan belum mafhum tujuan luhur jangka panjang SALAKAN, bagian dari pemantik dan modal sosial yang bagus. Sebab, meminjam tradisi masyarakat filsafat, selama tiap-tiap diri masih mau dan bisa bertanya tentang suatu hal, apalagi menyangkut harakah besar seperti SALAKAN, berarti kualitas nalar mereka masih sehat dan jernih. Ini petikan indah.
Ada beberapa cacatan urgen dari rapat nasional SALAKAN ini yang patut dicermati, diselami, dan diinternalisasi segenap alumni dan (mungkin) juga santri aktif tanpa terkecuali. Pertama, masyaikh Lubangsa Raya begitu membuka diri untuk melibat-aktifkan alumni dalam konteks merawat akar kependidikan berbasis pesantren.
Terlebih, seperti telah diwanti-wanti KH. Ilyas Sarqawi sekian tahun lalu, bahwa pada era sekarang manusia asyik dan larut berbicara lebih banyak melalui besi. Kehangatan komunikatif dan interaktif sosial kemanusiaan perlahan pudar. Tak lagi bersungguh dengan hal yang esensial. Sering melihat dan memutuskan semata beranjak dari hal terobsesi material.
Atasnama tuntutan pertumbuhan dan kemajuan digitalisasi, tanpa disadari parsialisme, hipokritisme, hedonisme, menyangkut pola pikir dan perilaku imani maupun ketakwaaan diri semakin “terampil.” Masyarakat pesantren pun tidak sepenuhnya “selamat” dari dan untuk realitas ini.
Tak berlebihan bila masyaikh memberikan ruang partisipatif-eksploratif-edukatif melalui Majelis SALAKAN terhadap alumni. Ini bukan semata penghormatan dan kasih sayang masyaikh. Lebih dari itu, kesungguhan berkeluarga dan panggilan moralitas berbasis kepesantrenan, yakni integrasi nilai-nilai harmoni masyaikh dengan alumni. Inilah yang oleh Kiai A. Warits Ilyas, dikategorikan sebagai “pertalian imani” dunia-akhirat.
Kedua, seluruh alumni tiada henti diingatkan dan dianjurkan berjihad mengelaborasi, mengeksplorasi, dan menginternalisasi “lalampan,” “partengkan,” atau kedalaman etik imani maupun ketakwaan serta khidmah kemasyarakatan yang diteladankan masyaikh sejauh ini.
Sebagaimana disinyalir Sang Penyair Celurit Emas, D. Zawawi Imron, masyaikh SALAKAN mayoritasnya tekun, sabar, dan ramah mengedepakan kualitas akhlak (perilaku) dari pada sekadar unjuk-tanjuk cerdas berilmu. Majelis SALAKAN, disadari atau tidak, adalah bagian dari pemompa dan perekat orientasi kultural serta spiritual dimaksud.
Pola Pengelolaan
Di tengah krisis sosial kepesantrenan belakangan ini, tentu pola pengelolaan Majelis SALAKAN juga layak diartikulasi lebih implementatif. Bukan untuk membandingkan atau menyerupakan dengan majelis-majelis pada umumnya. Tidak juga dalam rangka menyalurkan desakan atau otokritik berlebihan, baik langsung maupun tidak langsung.
Melainkan agar eksistensi Majelis SALAKAN benar-benar mengada dan berdaya sepanjang sejarah berkehidupan. Apalagi relasi dan kekeluargaan alumni bersama masyaikh, sedari awal telah dirawat atas kesadaran religiusitas dan kebarokahan.
Setidaknya ada dua pola yang patut diaktualisasikan secara kolektif. Pertama, pola “sorogan.” Tipologi ini sejatinya memberikan ruang edukatif-teologis bagi alumni dalam menerima, menguyah, dan memaknai kehendak luhur yang dialirkan masyaikh. Tiap-tiap momentum terbuka Majelis SALAKAN kapan dan dimana pun, seyogianya alumni utuh membuka diri dan menyerap pesan-pesan intelektual sekaligus suntikan moral-spiritual dari masyaikh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20231227-Masmuni-Mahatma.jpg)