Tribunners
Petikan Majelis Salakan
SALAKAN dipastikan tidak akan keluar jauh dari khittah penguatan imani dan ketakwaan disertai pengetahuan berbasis konstruksi kitab-kitab klasik
Dalam bahasa puitik A. Latif Anwar, alumni perlu istiqamah bermakmum di belakang kiai. Sekira suatu waktu menemukan ruang untuk saling berbagi dan mengingatkan atasnama kebaikan, itu adalah anugerah. Niatkan sebagai artikulasi quranik, tawasau bi al-haq wa tawasau bi al-shabr.
Melalui pola sorogan ini, keberadaan Majelis SALAKAN akan terus memandu alumni bersiaga berada di jalur-jalur edukatif-imaniyah, bukan sekadar bereksprimen menyangkut eskplorasi ilmiah dalam konteks menghamba dan memasyarakat.Walhasil, yang merasa alumni apalagi santri aktif, tidak akan mudah jatuh terjebak pergulatan menyangkut hal-hal yang kontradiktif. Akan terjauhkan dari disorientasi tradisi dan khazanah moralitas kepesantrenan. Sehingga menempatkan masyaikh, seperti Sabda Kanjeng Nabi, laiknya pewaris para Nabi, pemintal budi pekerti. Dus, dalam istilah lebih gaul, antara alumni dan masyaikh, “sejoli dan harmoni di surga Allah SWT kelak.”
Kedua, pola payung religi. Jalinan intensif alumni dan masyaikh dalam Majelis SALAKAN bukan hanya memenuhi kewajiban khidmah. Itu parsialistik dan kurang paradigmatik. Tidak empatik. Ia mudah lekang dan lapuk oleh arus dinamika rasionalitas, kegenitan industri, apalagi disrupsi (media) sosial.
Sebaliknya, pola payung religi akan mengantarkan alumni berada dalam keteduhan dan kematangan merapikan kultur maupun struktur ukhuwah berbasis nilai-nilai imani dengan masyaikh. Hal-hal yang ditransformasikan masyaikh dari dan untuk alumni maupun santri, dimaknai berbingkai kebajikan ukhrawiyah. Konstruksi ketaaannya bukan karena alumni atau santri un sich, melainkan ketaatan sejati integrasi imani bersama masyaikh. (*/E1)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20231227-Masmuni-Mahatma.jpg)