Rabu, 20 Mei 2026

Tribunners

Ber-bestie dengan Buku

Walau peran buku di zaman sekarang sudah terdegradasi, namun kebutuhan terhadap buku tetap harus digelorakan

Tayang:
Editor: suhendri
Dokumentasi Syamsul Bahri
Syamsul Bahri - Kepala MTs Al-Hidayah Toboali 

Oleh: Syamsul Bahri - Kepala MTs Al-Hidayah Toboali

KATA bestie berasal dari bahasa Inggris, yaitu best friend atau sahabat baik. Kata ini adalah kata tidak baku. Dalam konteks bahasa gaul, bestie artinya teman dekat yang memiliki ikatan emosional kuat dan sering menjadi tempat berbagi cerita, dukungan, dan kepercayaan. Kata ini sekarang sudah mengalami perluasan makna dan dipakai lebih luas sebagai sapaan akrab antarsesame, bahkan kadang dipakai untuk menyapa orang yang baru dikenal. (liputan6.com).

Dalam pengertian lain bestie merupakan kosakata informal atau slang yang berarti sahabat. Misalnya dalam kamus daring  Cambridge, arti bestie adalah seseorang yang mengenal kamu dengan baik. (detik.com).

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang pasti memerlukan sahabat yang dapat mendukungnya. Sahabat tersebut bisa disebut bestie. Dengan adanya sahabat tersebut, seseorang dapat mengambil pengaruh positifnya. Dalam memilih teman dekatnya seseorang memiliki kriteria yang berbeda-beda.

Dan menurut penulis bestie tidak terbatas hanya kepada makhluk hidup saja. Benda-benda mati pun dapat kita jadikan bestie jika itu mendatangkan manfaat, kebaikan serta perubahan terhadap diri kita. Salah satu yang dapat kita jadikan bestie adalah buku. 

Buku dapat dijadikan bestie karena buku juga bisa dijadikan sebagai media seseorang untuk berbicara mengungkapkan isi hatinya. Sehingga terkadang banyak kita jumpai beberapa orang yang pendiam dalam kehidupan sehari-hari ternyata memiliki beberapa karya dalam bentuk buku. Dan terkadang jika kita gali lebih dalam lagi ternyata buku-buku yang dihasilkannya merupakan curahan perasaannya. Dari situ kita dapat menyimpulkan bahwa bicaranya orang pendiam terkadang dari karyanya. Melalui buku seseorang akan merasa bebas mengeluarkan unek-uneknya. 

Ada banyak orang yang terkenal karena bukunya, orang-orang ini seolah berbicara melalui bukunya sehingga ketika kita membaca bukunya seolah kita sedang mendengarkan ia berbicara di hadapan kita. Biasanya orang-orang seperti itu memang benar-benar menjadikan buku sebagai sahabat karibnya.

Orang tersebut antara lain Andrea Hirata yang terkenal dengan karya fenomenalnya Laskar Pelangi dan buku-buku lainnya. Khusus Laskar Pelangi telah diterjemahkan dalam 34 bahasa asing dan diterbitkan di 130 negara, bahkan Laskar Pelangi pernah diangkat menjadi film.

Kemudian, Eka Kurniawan dengan karyanya Cantik Itu Luka. Karyanya tersebut bahkan menembus penghargaan World Reader’s Award 2016 yang diadakan di Hong Kong. Selanjutnya, Pramoedya Ananta Toer yang terkenal dengan Tetralogi Pulua Buru yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Lalu, Pidi Baid yang terkenal dengan karyanya Dilan. Karyanya juga diangkat menjadi sebuah film yang laur biasa digemari. Dan masih banyak lagi.

Orang-orang di atas sukses karena mendedikasikan dirinya untuk sebuah buku. Karya-karya spektakuler mereka adalah buah dari semangat berteman dengan buku. Dari buku yang mereka baca membuat timbul inspirasi untuk menciptakan sebuah bahkan beberapa buku. Artinya jika sanggup ber-bestie dengan buku kita akan mendapatkan keuntungan yang tidak kita terduga.

Menurut penulis, setidaknya ada dua tipe orang yang berkaitan dengan buku. Pertama, orang yang pendiam tetapi diam-diam menelurkan karya, kemudian kedua orang yang pandai bicara dan juga pandai menulis buku. Kedua tipe ini sebenarnya bersifat positif semua.

Tipe yang pertama mungkin mengamalkan pepatah diam itu emas sehingga dengan diamnya ia mampu menciptakan karya-karya emas. Adapun tipe yang kedua mengamalkan istilah sesuatu harus diungkapkan sehingga orang mengerti. Kedua tipe ini sebenarnya sudah mewakili orang-orang yang siap untuk berteman dekat dengan buku.

Memang untuk ber-bestie dengan buku terkadang ada saja hambatan dan kendalanya. Apalagi di zaman modern yang serba canggih ini, kebutuhan terhadap buku sudah hampir tergerus. Anak-anak sekarang lebih suka membaca berita di gadget mereka. Selain canggih, ponsel pintar itu juga dapat mempermudah orang dalam mengakses berbagai informasi.

Jika boleh membandingkan, atmosfer untuk mencintai buku memang lebih mendukung pada masa lalu, di mana masa itu belum ada handphone sehingga anak-anak pada masa itu mau tidak mau membaca buku, sebab pada masa itu informasi hanya dapat diperoleh melalui buku. Ditambah lagi pada masa itu sangat mudah untuk memperoleh buku bacaan.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved