Tribunners
Mencari Jiwa dalam Dunia Ekonomi Modern
Jika ekonomi dibangun di atas moral, tanggung jawab, dan spiritualitas, maka pembangunan tidak hanya menghasilkan kekayaan, tetapi juga keberkahan
Karena itu, konsep maslahah menjadi sangat penting. Maslahah berarti kemanfaatan bersama. Artinya, aktivitas ekonomi tidak boleh hanya menguntungkan individu tertentu, tetapi juga harus memberikan dampak sosial yang luas bagi masyarakat. Dalam konteks modern, konsep ini sangat relevan untuk menjawab berbagai persoalan kontemporer, mulai dari ketimpangan sosial, krisis lingkungan, hingga budaya konsumtif yang makin mengakar.
Lebih lanjut, dunia hari ini telah berada pada era digital dengan kecepatan yang luar biasa. Artificial intelligence berkembang pesat, fintech menjamur di berbagai sektor, dan transaksi berlangsung hanya dalam hitungan detik. Namun di tengah kemajuan tersebut, ada satu pertanyaan penting yang jarang dibahas adalah, apakah digitalisasi benar-benar membuat manusia makin bijak, atau justru semakin impulsif?
Kita menyaksikan fenomena investasi instan yang dipromosikan hampir seperti perjudian modern, dan parahnya anak muda tergoda oleh impian kekayaan cepat, sementara media sosial menciptakan standar hidup palsu yang mendorong budaya pamer dan konsumsi berlebihan. Bahkan dalam banyak kasus, teknologi justru mempercepat penyebaran keserakahan.
Dalam situasi seperti ini, ekonomi Islam memiliki kritik yang sangat penting. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat keadilan dan transparansi, bukan justru memperbesar eksploitasi. Karena itu, spiritualitas menjadi makin penting di era digital. Bukan untuk menolak kemajuan, melainkan untuk memastikan bahwa kemajuan tetap berpihak pada kemanusiaan.
Jalan pulang bagi peradaban
Sebagian orang mungkin menganggap ekonomi Islam terlalu idealistis, sementara sebagian lainnya menilai konsep tersebut tidak realistis di tengah dunia modern. Namun, anggapan seperti itu sering lahir karena ekonomi Islam dipahami secara dangkal. Ekonomi Islam bukan romantisme masa lalu dan bukan pula nostalgia terhadap peradaban lama. Ia adalah kritik filosofis terhadap arah peradaban modern yang mulai kehilangan keseimbangan.
Di samping itu, ekonomi Islam tidak menolak pasar, tidak menolak perdagangan, dan tidak anti terhadap keuntungan. Yang ditolak adalah ekonomi yang kehilangan moralitas. Karena itu, ekonomi Islam sebenarnya menawarkan sesuatu yang sangat dibutuhkan dunia hari ini, yaitu keseimbangan akal dan wahyu, antara pasar dan moral, antara individu dan masyarakat, serta antara dunia material dan spiritualitas.
Sebagai pamungas, diskursus terkait ekonomi sesungguhnya bukan sekadar tentang angka, pertumbuhan, atau keuntungan. Ia adalah diskursus tentang manusia. Jenis manusia seperti apa yang ingin kita lahirkan? Masyarakat seperti apa yang ingin kita bangun? Dan peradaban seperti apa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya?
Jika ekonomi hanya melahirkan manusia rakus, maka seberapa pun majunya teknologi, dunia tetap akan dipenuhi ketimpangan dan krisis. Namun, jika ekonomi dibangun di atas moral, tanggung jawab, dan spiritualitas, maka pembangunan tidak hanya menghasilkan kekayaan, tetapi juga keberkahan.
Mungkin inilah sebabnya dunia mulai kembali melirik ekonomi Islam. Bukan karena dunia tiba-tiba menjadi religius, melainkan karena manusia mulai lelah hidup dalam sistem yang terlalu sibuk mengejar keuntungan hingga lupa menjaga kemanusiaan.
Dalam konteks ini, ekonomi Islam bukan sekadar alternatif sistem ekonomi, tetapi juga jalan kritik terhadap peradaban modern yang mulai kehilangan arah. Dan mungkin, di tengah dunia yang makin bising oleh angka dan keuntungan, manusia sebenarnya sedang mencari satu hal sederhana: cara untuk kembali menjadi manusia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260302_Lukman-Hakim.jpg)