Tribunners
Mencari Jiwa dalam Dunia Ekonomi Modern
Jika ekonomi dibangun di atas moral, tanggung jawab, dan spiritualitas, maka pembangunan tidak hanya menghasilkan kekayaan, tetapi juga keberkahan
Lebih lanjut, dalam praktik kapitalisme global, manusia perlahan direduksi menjadi angka statistik. Demi efisiensi fenomena PHK massal terjadi, dan yang paling ‘lucu’ bahkan Pendidikan berubah menjadi industri mahal yang sulit dijangkau Masyarakat kecil. Semua ini menunjukkan satu hal penting, bahwa ekonomi yang kehilangan moral akan mudah berubah menjadi alat penindasan.
Mengapa Ekonomi Islam Mulai Dilirik?
Di tengah krisis tersebut, ekonomi Islam mulai mendapat perhatian serius. Bukan hanya di negara-negara muslim, tetapi juga di Barat. Menariknya, banyak orang salah memahami ekonomi Islam. Sebagian mengira ekonomi Islam hanya soal bank syariah tanpa bunga. Sebagian lagi menganggapnya sekadar ekonomi konvensional yang diberi label agama, padahal ekonomi Islam jauh lebih mendasar dari itu.
Perlu untuk diketahui, bahwa ekonomi Islam lahir dari paradigma tauhid. Artinya, seluruh aktivitas ekonomi dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab manusia kepada Tuhan. Oleh karena itu, dalam ekonomi Islam, manusia bukan sekadar makhluk ekonomi, tetapi khalifah.
Konsep khalifah memiliki makna yang sangat dalam. Manusia dipandang sebagai pemegang amanah yang bertugas menjaga keseimbangan kehidupan. Harta bukan milik mutlak manusia, melainkan titipan yang harus digunakan secara adil dan bertanggung jawab. Karena itu, ekonomi Islam tidak bertanya tentang berapa keuntungan, tetapi apakah cara memperolehnya halal?
Ekonomi Islam tidak hanya bicara peningkatan pendapatan, tetapi apakah aktivitasnya merugikan masyarakat? Apakah ada unsur eksploitasi, dan apakah ada ketidakadilan? Di sinilah letak perbedaan paling mendasar antara ekonomi konvensional dan ekonomi Islam. Singkatnya, ekonomi konvensional sering berangkat dari pertanyaan tentang keuntungan, sedangkan ekonomi Islam berangkat dari pertanyaan tentang kemaslahatan.
Selain itu, salah satu kritik terbesar terhadap ekonomi Islam biasanya muncul dari kalangan yang menganggap agama tidak relevan dalam ilmu pengetahuan modern. Padahal, anggapan ini lahir dari kesalahpahaman besar. Sejatinya, ekonomi Islam tidak menolak rasionalitas, modernitas, lebih-lebih antisains. Yang ditolak adalah gagasan bahwa manusia dapat hidup hanya dengan akal tanpa moral. Dalam epistemologi Islam, wahyu dan rasio justru dipadukan sehingga dengan demikian akal tetap penting, tetapi ia juga harus dibimbing nilai.
Syed Muhammad Naquib al-Attas mislanya, menegaskan bahwa ilmu dalam Islam harus melahirkan adab. Artinya, pengetahuan tidak cukup hanya menghasilkan kecerdasan teknis, tetapi juga harus membentuk karakter manusia. Pandangan yang sama juga tampak dalam pemikiran Hadarah Rajab yang menyatakan bahwa epistemologi Islam bukan sekadar teori pengetahuan, tetapi juga berkaitan dengan pembentukan akhlak dan penyucian jiwa. Dalam bahasa yang berbeda, pengetahuan dalam Islam tidak berhenti pada rasio, melainkan menyentuh dimensi spiritual manusia.
Dengan demikian, ini menjadi penting untuk dipahami bahwa problem dunia modern sebenarnya bukan kekurangan teknologi, data atau kecerdasan. Namun kekurangannya terletak pada hilangnya kebijaksanaan.
Ketika moral dianggap utopis
Krisis ekonomi global yang terus berulang sebenarnya menjadi bukti bahwa sistem ekonomi modern memiliki persoalan mendasar. Krisis finansial 2008, misalnya, lahir bukan karena manusia kurang pintar menghitung angka, melainkan karena kerakusan yang dibiarkan tumbuh tanpa kendali moral. Instrumen keuangan diperdagangkan secara masif tanpa pengawasan etika, spekulasi berkembang liar, dan keserakahan dilegalkan atas nama kebebasan pasar. Akibatnya, jutaan orang kehilangan pekerjaan, rumah-rumah disita, dan ekonomi dunia terguncang dalam waktu singkat. Ironisnya, setelah krisis berlalu, dunia justru kembali mengulang pola yang sama.
Mengapa hal itu terus terjadi? Karena sistem ekonomi modern sering kali hanya memperbaiki mekanisme teknis, tetapi gagal menyentuh akar moral persoalannya. Di sinilah ekonomi Islam menawarkan kritik yang sangat tajam. Islam tidak melihat krisis ekonomi semata sebagai kegagalan pasar, tetapi sebagai kegagalan moral manusia.
Ibnu Khaldun bahkan sejak jauh hari telah menjelaskan bahwa kehancuran sebuah peradaban sering bermula dari kerusakan moral dan hilangnya solidaritas sosial. Pandangan ini terasa sangat relevan hari ini, ketika korupsi dianggap biasa, manipulasi pasar dipandang sebagai strategi bisnis, utang konsumtif berubah menjadi gaya hidup, dan manusia rela mengorbankan apa pun demi keuntungan. Dalam kondisi demikian, sesungguhnya yang sedang runtuh bukan hanya ekonomi, tetapi juga peradaban.
Maqashid syariah dan ekonomi kemanusiaan
Salah satu konsep paling menarik dalam ekonomi Islam adalah maqashid syariah. Secara sederhana, maqashid syariah merupakan tujuan utama syariat Islam dalam menjaga lima hal mendasar, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Konsep ini sebenarnya sangat revolusioner karena mengubah cara manusia memahami pembangunan. Dalam paradigma modern, pembangunan sering kali hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi dan peningkatan angka-angka statistik.
Dalam maqashid syariah, pembangunan harus tetap menjaga martabat manusia. Sebab, apa gunanya pertumbuhan ekonomi tinggi jika masyarakat kehilangan moral? Apa arti investasi besar apabila lingkungan justru rusak? Dan apa makna kemajuan teknologi jika manusia makin individualis? Ekonomi Islam menolak model pembangunan yang hanya memperkaya segelintir elite sambil meninggalkan masyarakat kecil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260302_Lukman-Hakim.jpg)