Kamis, 4 Juni 2026

Berita Bangka Belitung

ESDM Babel Nilai Pola Hidup Sehat dan Reklamasi Kolong Penting Cegah Malaria

Dinas ESDM Provinsi Bangka Belitung menilai tidak semua kolong bekas tambang timah menjadi habitat nyamuk Anopheles penyebab...

Tayang:
Bangkapos.com/Riki Pratama/Riki Pratama
Kabid Pertambangan Mineral Logam, Dinas ESDM Pemprov Babel, Erpan Muchtedi. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menegaskan tidak semua kolong bekas tambang timah menjadi habitat berkembang biaknya nyamuk Anopheles penyebab malaria.

Kabid Pertambangan Mineral Logam Dinas ESDM Babel, Erpan Muchtedi, mengatakan larva nyamuk Anopheles umumnya lebih menyukai perairan tenang, jernih, dan minim pergerakan air.

Karena itu, menurutnya aktivitas pertambangan yang masih aktif cenderung kecil kemungkinan menjadi tempat berkembang biaknya larva nyamuk malaria.

"Kalau kita lihat habitatnya larva ini menyukai air yang tenang, bening, kalau ada aktivitas tambang itu kemungkinan kecil dia di situ. Tapi ini mohon dikoreksi. Karena pabila ada bunyi, pergerakan air, menurut saya kecil kemungkinan ada larva hidup di perairan tersebut," kata Erpan kepada Bangkapos.com, Selasa (26/5/2026).

Ia mengatakan, kolong bekas tambang, khususnya dari aktivitas pertambangan timah. Umumnya telah memiliki penanganan atau treatment tersendiri, terutama melalui proses reklamasi setelah aktivitas tambang selesai dilakukan.

"Ini kewenangan tidak di kita, di Minerba yang punya program reklamasi penataan kolong dan termasuk melakukan penebaran bibit ikan. Tentu apabila populasi ikan meningkat, maka ia akan menjadi predator dari nyamuk malaria, sehingga dapat mengendalikan larva," katanya.

Ia menilai, pencegahan malaria juga perlu dimulai dari pola hidup sehat di lingkungan masyarakat. Seperti tidak membiarkan barang bekas atau kaleng menampung air hujan yang dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

"Menurut saya pola hidup sehat, ada barang bekas tidak dibiarkan saja, kaleng ditata, itu cara sendiri supaya tidak menampung air hujan. Pola hidup sehatnya dulu, kalau di pertambangan lakukan reklamasi ditebar bibit ikan dengan memperhatikan kadar airnya," lanjutnya.

Ia menegaskan, pengawasan terhadap kolong bekas tambang merupakan kewenangan inspektur tambang yang memiliki fungsi pengawasan lingkungan.

Tidak Semua Kolong

Kabid Pertambangan Mineral Logam, Dinas ESDM Pemprov Babel, Erpan Muchtedi, mengatakan, keberadaan kolong bekas tambang timah tidak seluruhnya menjadi tempat berkembang biak nyamuk Anopheles penyebab malaria.

"Kolong-kolong itu, tidak semua bagian kolong yang mungkin jadi habitat hidup dari larva nyamuk anopheles," kata Erpan Muchtedi,kepada Bangkapos.com, Selasa (26/5/2026).

Terutama pada bagian tengah kolong yang selalu terpapar sinar matahari. Sehingga tidak memeuhi syarat menjadi tempat hidupnya larva nyamuk anopheles.

"Bagian tengah tidak memenuhi syarat untuk hidupnya, paling bagian pinggir vegetasinya sudah menjadi tertutup dari matahari, menjadi habitatnya. Tidak semua bagian kolong itu. Menjadi habitat nyamuk anopheles,"lanjutnya.

Ia menjelaskan, kolong-kolong dengan kondisi panas kemungkinan kecil menjadi tempat berkembang biak nyamuk Anopheles. Menurutnya, habitat larva nyamuk justru lebih berpotensi ditemukan di pinggir sungai maupun rawa-rawa yang kondisi lingkungannya lebih mendukung.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved