Tribunners
MBG Sibuk Membagi, Lupa Mengukur
Sudah saatnya kesibukan bukan sekadar menghitung jumlah, tapi mengukur perubahan gizinya.
Oleh: Chairul Aprizal, S.K.M. - Petugas Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku
DARI pertama kali program Makan Bergizi Gratis (MBG) diluncurkan esensinya memperbaiki status gizi, mencegah stunting, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Jadi, program ini bukan sekadar membagikan makanan gratis dan berhenti pada jumlah paket yang sudah didistribusikan dengan lancar.
Sekarang apakah kita bisa ukur tingkat keberhasilan terhadap perbaikan gizi dari program yang sudah berjalan ini berada di titik mana? Tentu saja belum. Kita lupa mengukur, tapi sibuk membagi.
Kebanggaan yang sudah terlihat baru sampai pada keberhasilan distribusi yang sudah menjangkau hampir seluruh sasaran, baik di sekolah maupun kelompok rentan dan prioritas di rumah tangga. Jutaan paket MBG yang setiap hari didistribusikan sudah bisa dinikmati oleh masyarakat juga siswa. Pemilik program bangga, pelaksana lega, dan penerima kenyang. Tapi esensinya belum ketemu titik terang. Maka yang semestinya kita ukur bukan jumlah paket yang didistribusikan tetapi perubahan kondisi penerima.
Belum lagi ada di beberapa pelaksanaan paket MBG dibagikan dengan sistem rapel. Yang mana sistem rapel misalnya per 2 hari sekali ini rentan tidak tepat sasaran. Memunculkan beberapa kemungkinan, yang makan malah anggota keluarga lainnya, tidak habis dimakan penerima, dan berisiko penurunan kualitas makanan atau bahan pangan. MBG yang dirapel atau dibagikan dua hari sekaligus misalnya sulit untuk dipastikan bahwa asupan gizi yang ada dalam paket MBG betul-betul sampai ke penerima manfaat. Distribusi rapel tidak salah, hanya berisiko sehingga harus ada antisipasi.
Ada beberapa kebiasaan di rumah tangga yang mengonsumsi makanan bersama-sama (berbagi). Misalnya program MBG yang menyasar ibu hamil, atau ibu balita di keluarga dalam kondisi tertentu sering justru dibagi atau malah dikonsumsi oleh anggota keluarga lainnya. Alasannya bisa jadi ekonomi atau kebiasaan anggota keluarga di rumah tangga.
Program MBG yang sudah menguras anggaran negara dengan deras ini mestinya diukur manfaat dan keberhasilannya terhadap perbaikan gizi. Sebagai bentuk pertanggungjawaban kebijakan dan keuangan yang sudah dipakai. Program MBG ini sampai sekarang belum ada sistem yang betul-betul memberikan gambaran pemantauan gizi dari hasil membagikan paketnya.
Merujuk ilmu kesehatan juga kerangka gizi UNICEF meyakinkan sebuah evaluasi program itu harusnya menilai hasil yang dicapai bukan aktivitas yang dilakukan (outcome bukan hanya output). Jangan sampai program MBG yang sudah menjadi salah satu intervensi gizi terbesar yang dilaksanakan pemerintah menjadi sia-sia akibat dari kita lebih sibuk menghitung jumlah porsi ketimbang status gizi penerima manfaat.
Kuncinya bukan di banyaknya makanan yang berhasil dibagikan, tapi banyaknya permasalahan gizi yang berhasil ditangani. Pengukuran pemantauan adalah kunci. Yang perlu diukur adalah berat badan, tinggi badan, panjang badan, lingkar lengan, kenaikan berat badan ibu hamil/balita, kehadiran serta edukasi gizi dalam pemantauan rutin.
Siapa yang dapat terlibat ? Apabila dapur sebagai produksi dan distribusi, maka posyandu dapat menjadi instrumen pengukuran dan pemantauan tanpa perlu menyediakan SDM atau unit baru. Posyandu terdiri dari berbagai integrasi lintas sektoral mulai dari kader kesehatan, tenaga kesehatan, pemerintah setempat (desa/kelurahan), serta puskesmas.
Kader dan petugas kesehatan sebenarnya sudah memiliki sistem pemantauan tumbuh kembang yang sudah berjalan lama. Dari segi efektivitas program MBG, maka terintegrasi dengan posyandu untuk pencatatan dan pemantauan perlu dilakukan.
Kalau selama ini program MBG hanya berhenti di output maka saatnya program ini menuju outcome. Jangan bangga puluhan ribu porsi dibagikan, atau ribuan orang kenyang makan paket MBG. Penting sekarang untuk dilihat berapa siswa dapat lebih baik gizinya, berapa balita yang membaik status gizinya, berapa ibu hamil yang sehat dengan status gizi baik, dan berapa banyaknya kasus gizi buruk serta stunting yang menurun.
Program MBG tidak hanya memberikan rasa kenyang, tapi juga manfaat gizi. Langkah besar yang patut diapresiasi ini harus benar-benar bermanfaat untuk masyarakat Indonesia. Sudah saatnya kesibukan bukan sekadar menghitung jumlah, tapi mengukur perubahan gizinya. (*)
| MBG Masuk Kampus antara Politik Kesejahteraan dan Ancaman Pergeseran Fungsi Universitas |
|
|---|
| Hari Lahir Pancasila, Momentum Menata Ekonomi Babel |
|
|---|
| Pancasila: Benteng Pertahanan Bangsa di Tengah Arus Digital |
|
|---|
| Merawat Pancasila di Tengah Polarisasi Masyarakat |
|
|---|
| Pancasila sebagai Benteng Disintegrasi di Tengah Arus Globalisasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260602_Chairul-Aprizal.jpg)