Tribunners
Sebuah Perenungan: Keadilan dan Martabat Manusia
Setiap manusia membawa martabat bawaan yang tidak boleh dirampas, diabaikan, ataupun dipandang rendah oleh sesamanya.
Pertanyaan-pertanyaan humanis tersebut jauh lebih dekat dengan esensi maqashid syariah ketimbang deretan angka statistik. Sebab, kemajuan sejati sebuah peradaban tidak hanya diukur dari apa yang berhasil dibangun, tetapi dari siapa yang dimuliakan. Mungkin salah satu kekeliruan terbesar kita adalah membayangkan bahwa keadilan yang sempurna dapat diwujudkan sepenuhnya oleh manusia di dunia. Sejarah panjang telah menunjukkan bahwa tidak ada satu pun masyarakat yang benar-benar bersih dari ketidakadilan.
Namun, kenyataan pahit tersebut tidak lantas membuat perjuangan menegakkan keadilan menjadi sia-sia. Keadilan berfungsi sebagai kompas perjalanan. Ia adalah penunjuk arah moral. Kita mungkin tidak akan pernah sampai pada bentuk keadilan yang absolut dan sempurna di dunia ini, tetapi tanpa adanya orientasi pada keadilan, masyarakat akan kehilangan kompas moralnya dan berjalan dalam kegelapan. Karena itulah, ikhtiar untuk mewujudkan keadilan adalah tugas sejarah yang tidak pernah usai; ia harus terus diperjuangkan oleh setiap generasi.
Sebagai pemungkas, inti dari seluruh perenungan panjang ini dapat diringkas dalam satu prinsip sederhana: keadilan adalah cara kita menghormati martabat manusia. Ketika seorang ayah bekerja keras memeras keringat demi keluarganya, ia layak dihormati. Ketika seorang ibu berkorban tanpa pamrih demi anak-anaknya, ia layak dihormati. Ketika seorang petani menanam pangan yang menghidupi kita setiap hari, ia layak dihormati. Ketika seorang guru membimbing jalannya generasi muda, ia layak dihormati. Dan ketika seorang pekerja menjalankan tugasnya dengan penuh kejujuran, ia sangat layak dihormati.
Sebab, di balik segala sekat perbedaan status sosial, jabatan, dan kekayaan, ada satu hakikat yang menyatukan kita semua: kita adalah manusia. Setiap manusia membawa martabat bawaan yang tidak boleh dirampas, diabaikan, ataupun dipandang rendah oleh sesamanya. Dunia mungkin tidak akan pernah sepenuhnya adil. Namun, selama masih ada hati yang peduli dan berpihak pada martabat manusia, harapan untuk mendekati keadilan itu akan selalu menyala, dan di situlah letak tugas moral terdalam kita sebagai manusia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260302_Lukman-Hakim.jpg)