Tribunners
Sebuah Perenungan: Keadilan dan Martabat Manusia
Setiap manusia membawa martabat bawaan yang tidak boleh dirampas, diabaikan, ataupun dipandang rendah oleh sesamanya.
Oleh: Lukman Hakim - Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah IAIN SAS Babel
TERDAPAT pertanyaan yang telah menemani manusia sejak zaman dahulu hingga hari ini. Pertanyaan itu tidak lahir dari ruang kuliah, tidak pula dari ruang sidang pengadilan. Ia lahir dari jalan-jalan yang dipenuhi keringat para pekerja, dari rumah-rumah sederhana yang dihuni keluarga yang berjuang, dan dari hati manusia yang masih memiliki kepekaan terhadap penderitaan sesamanya.
Pertanyaan itu adalah, apakah dunia ini adil? Ini bukan tentang definisi hukum atau teori filsafat. Namun lebih pada sesuatu yang dekat atau bahkan melekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mengapa ada orang yang bekerja sejak sebelum matahari terbit hingga malam hari, namun tetap hidup dalam keterbatasan? Mengapa ada orang yang mengorbankan kesehatan, tenaga, dan pikirannya demi keluarga, tetapi tidak pernah benar-benar menikmati hasil dari jerih payahnya? Dan mengapa di saat yang sama kita menyaksikan sebagian orang hidup dalam kemewahan, menikmati berbagai fasilitas, bahkan terkadang menyalahgunakan kekuasaan yang mereka miliki?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak pernah benar-benar selesai dijawab. Namun justru karena itulah ia layak direnungkan.
Banyak orang berbicara tentang keadilan. Namun, tidak semua orang merasakan keadilan sebagai kegelisahan batin, atau sekadar muncul ketika terdapat jarak yang terlalu lebar antara apa yang kita yakini seharusnya terjadi dan apa yang benar-benar terjadi di hadapan mata.
Kita percaya bahwa kerja keras layak dihargai, kejujuran layak mendapatkan tempat dan kita percaya bahwa pengorbanan memiliki nilai. Namun, kehidupan sering memperlihatkan kenyataan yang berbeda.
Seorang ayah bekerja sepanjang hari demi keluarganya. Tubuhnya makin menua. Tenaganya makin berkurang. Harapannya sederhana. Ia hanya ingin membawa pulang sesuatu untuk membuat istri dan anak-anaknya tersenyum.
Di sisi lain, ada orang yang memiliki kekuasaan dan akses yang jauh lebih besar. Sebagian menggunakannya untuk kemaslahatan masyarakat. Namun, tidak sedikit pula yang menggunakannya untuk memenuhi kepentingan pribadi.
Di sinilah hati mulai bertanya, jika dunia memiliki keteraturan moral, mengapa ketimpangan seperti ini bisa terjadi? Pertanyaan tersebut bukan sekadar persoalan ekonomi, namun lebih urgen dari itu, ini adalah persoalan moral.
Hukum dan keadilan tidak selalu sama
Salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah menganggap hukum dan keadilan sebagai sesuatu yang identik, padahal keduanya tidak selalu sama. Hukum adalah seperangkat aturan yang dibuat untuk mengatur kehidupan bersama. Keadilan adalah tujuan yang ingin dicapai melalui aturan tersebut. Namun, masalahnya adalah aturan tidak pernah mampu menangkap seluruh kompleksitas kehidupan manusia.
Sebuah putusan dapat sah secara hukum tetapi terasa tidak adil secara moral. Sebaliknya, sesuatu yang terasa adil secara emosional belum tentu dapat diterapkan secara hukum. Karenanya, keadilan sering kali berada di wilayah yang lebih luas daripada sekadar kepatuhan terhadap aturan.
Dalam bahasa yang berbeda, keadilan mengharuskan kita melihat konteks, memahami manusia, dengan menuntut kemampuan untuk bukan hanya pada apa yang terjadi, namun juga mengapa sesuatu itu terjadi.
Di sisi lain, dalam perspektif Islam, umat Islam wajib meyakini adanya takdir. Keyakinan ini memberikan ketenangan bahwa kehidupan ini tidak berjalan tanpa makna, apalagi tanpa tujuan. Namun, iman kepada takdir tidak serta-merta melenyapkan pertanyaan tentang ketidakadilan. Banyak orang beriman yang tetap bertanya-tanya: mengapa orang baik harus menderita, sementara mereka yang zalim terkadang tampak hidup tanpa kesulitan?
Dalam Islam, dunia memang tidak pernah dijanjikan sebagai tempat bagi keadilan yang sempurna, namun lebih sebagai panggung ujian. Justru karena ketidaksempurnaan itulah, hari pembalasan ada guna menggenapi keadilan yang sejati.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260302_Lukman-Hakim.jpg)