Jumat, 24 April 2026

Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung

Awal Mula Proyek Whoosh Hingga Jokowi Merespons: Hmmm?

Proyek Whoosh di masa pemerintahan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) itu kini yang meninggalkan utang fantastis Rp116 triliun.

Editor: Fitriadi
Biro Pers Setpres
JOKOWI DAN WHOOSH - Presiden RI ke 7, Joko Widodo (Jokowi) saat berpose di depan Whoosh, lokomotif Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Stasiun Halim, Jakarta Timur, Rabu (13/9/2023). Proyek ini kemudian jadi masalah karena membebani keuangan negara. 

BANGKAPOS.COM - Proyek kereta cepat Whoosh masih jadi sorotan banyak pihak.

Proyek prestisius di masa pemerintahan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) itu kini yang meninggalkan utang fantastis Rp116 triliun.

Belum dipastikan pihak mana yang akan menanggungnya.

Baca juga: Menkeu Purbaya Ogah Bayar Utang Kereta Cepat Whoosh, Luhut: Tidak Ada yang Pernah Meminta APBN

Menteri Keuangan Purbaya menolak pembayaran utang besar tersebut menggunakan APBN.

Awal Mula Proyek Whoosh

Proyek Whoosh digagas sejak era Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2011, dengan Jepang sebagai mitra utama melalui JICA (Japan International Cooperation Agency).

Baca juga: Mahfud MD Bongkar Dugaan Mark-Up Proyek Kereta Api Cepat Whoosh Warisan Jokowi

Jepang telah melakukan studi kelayakan hingga menggelontorkan biaya sebesar 3,5 juta dollar AS, dan menawarkan pinjaman bunga rendah 0,1 persen dengan tenor 40 tahun, memakai skema Government-to-Government (G2G) dan biaya estimasi 5 hingga 6,2 miliar dollar AS.

Namun, pada 2015, Jokowi yang saat itu menjabat Presiden RI, memilih China sebagai mitra untuk membangun Whoosh.

Alasannya, China menawarkan skema Business-to-Business (B2B) tanpa jaminan APBN, berbagi teknologi lebih luas, dan pinjaman sebesar 5 miliar dollar AS  tanpa syarat ketat seperti Jepang, meski bunganya lebih tinggi, yakni 2 hingga 3,4 persen.

Selain menyebabkan Jepang marah, keputusan Jokowi beralih ke China ini dinilai kontroversial.

Ignasius Jonan yang saat itu menjabat sebagai Menteri Perhubungan RI menyatakan penolakan karena menganggapnya tidak menguntungkan, tapi akhirnya dipecat.

Namun, proyek Whoosh saat ini menuai sorotan lantaran utangnya yang mencapai Rp116 triliun menjadi beban berat bagi BUMN Indonesia, terutama PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pemimpin konsorsium PSBI.

Utang proyek Whoosh dinilai bagai bom waktu, membawa beban yang membuat PT KAI dan konsorsium BUMN yang terlibat kewalahan menanggung kerugian.

Proyek yang resmi beroperasi sejak 2 Oktober 2023 ini mengalami pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar 1,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp19,54 triliun, dari biaya awal yang direncanakan 6,07 miliar dollar AS.

Sehingga, total investasi proyek Whoosh mencapai 7,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp116 triliun.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved