Resonansi

Bunyi Sunyi

Dalam kelangkaan renungan dan kealpaan perhitungan, sunyi hadir sebagai jeda yang mengingatkan.

Penulis: Ade Mayasanto | Editor: Fitriadi
Dok. Ade Mayasanto
Ade Mayasanto, Editor in Chief Bangka Pos/Pos Belitung. 

Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.

Editor in Chief 
Bangka Pos/Pos Belitung

Rocky Gerung pernah berkata, “Sunyi adalah suara yang sembunyi.”

Sebuah kalimat pendek, nyaris selesai sebelum benar-benar dimulai. Ia tak menerangkan, hanya menunjuk. Selebihnya, pembaca dibiarkan berjalan sendiri.

Alkisah, pada suatu malam yang tak tergesa, ketika waktu seperti lupa menghitung detiknya sendiri, aku mencoba menguji keberadaan sunyi.

Saat itu, bukan malam yang ramai oleh deru mesin, atau suara notifikasi pesan pendek. Bukan pula malam yang masih menyisakan dengus percakapan. Melainkan malam yang datang perlahan, menanggalkan suara satu per satu, seperti pohon meranggas di musim kemarau.

Aneh memang. Sunyi kok didengar. Paradoks, kata akal. Namun barangkali justru di situlah daya tariknya. Sesuatu yang tak bisa dipastikan, tapi terus mengganggu. Ia menggoda pikiran, menyentuh rasa, memancing tanya, dan kadang, senyum kecil yang tak tahu sebabnya.

Sejak itu, pertanyaan berdatangan. Tidak serentak. Tidak gaduh. Ia hadir satu-satu, diam-diam, seperti tamu yang tahu kapan harus mengetuk. Dua tanya mengemuka di dalam hening malam.

Mengapa sunyi bisa berbunyi?Mengapa ia justru membutuhkan latar yang tak bersuara?

Dalam filsafat, ihwal keganjilan semacam ini sejak lama akrab.

Martin Heidegger pernah mengatakan bahwa keheningan bukanlah ketiadaan, melainkan cara lain dari kehadiran. Sunyi bukan nol, melainkan jarak. Ia memberi ruang agar sesuatu bisa tampak. Dalam diam, yang biasanya tertutup oleh hiruk-pikuk, justru muncul ke permukaan, yakni diri kita sendiri.

Sekedar tahu. Martin Heidegger adalah seorang filsuf Jerman abad ke-20, lahir pada 1889 di Messkirch dan wafat pada 1976.

Ia dikenal sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh, sekaligus paling kontroversial dalam filsafat modern, terutama dalam tradisi fenomenologi dan eksistensialisme.

Lanjut ke sunyi. Saat itu dan hingga kini, sunyi tidak sibuk menjelaskan. Ia tidak menawarkan definisi. Ia hanya menyediakan sela. Dalam sela itulah makna beringsut masuk, tanpa diminta, dan tanpa dipaksa.

Maka, sunyi barangkali, hanya ingin berteriak sekadar ada. Tidak lebih. Ia menolak diurai lewat sederet kata, sebab kata-kata sering kali justru menjadi kebisingan lain. Ia pun tak menuntut dipahami. Kehadirannya serasa cukup.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved