Resonansi
Bunyi Sunyi
Dalam kelangkaan renungan dan kealpaan perhitungan, sunyi hadir sebagai jeda yang mengingatkan.
Penulis: Ade Mayasanto | Editor: Fitriadi
Namun zaman kita bukan zaman yang ramah pada jarak. Ini zaman yang gemar bersuara, memproduksi opini, mengumumkan sikap, mempromosikan diri.
Media sosial menjelma tembok tempat semua orang ingin meninggalkan jejak. Di situ, bunyi sunyi terasa ganjil. Bahkan subversif.
Subversif karena ia seperti sikap menolak. Menolak menjual diri, menolak menukar diam dengan tepuk tangan, menolak larut dalam pengakuan yang disediakan kekuasaan.
Sunyi lalu menjadi semacam kecanggungan moral. Sesuatu yang membuat sebagian intelektual merasa terancam, sebab tak semua hal bisa dibela dengan pernyataan.
Ludwig Wittgenstein pernah mengingatkan, “Tentang apa yang tak dapat kita bicarakan, kita harus diam.” Tetapi diam di sini bukan menyerah. Ia justru bentuk tanggung jawab. Sebab tidak semua yang penting bisa diumumkan.
Jadi, mungkin memang tak perlu bertanya terlalu jauh. Sejak dulu hingga kini, sunyi tetap seperti itu, yakni tak selesai ditafsirkan. Namun, dalam kelangkaan renungan dan kealpaan perhitungan, ia hadir sebagai jeda yang mengingatkan.
Sunyi adalah suara yang sembunyi.
Tapi benarkah?
Atau justru kitalah yang terlalu bising untuk mendengarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Ade-Mayasanto.jpg)