Tiga Bulan Terisolasi, 14 Kampung di Mesidah Bertaruh Nyawa di Jembatan Bambu Rapuh
Tiga bulan pascabanjir dan longsor di Bener Meriah, 14 kampung di Kecamatan Mesidah masih bergantung pada jembatan bambu darurat di Sungai Wih Kanis
Penulis: M Zulkodri CC | Editor: M Zulkodri
Ringkasan Berita:
- Ribuan warga Kecamatan Mesidah, Bener Meriah, masih melintasi jembatan darurat bambu di Sungai Wih Kanis tiga bulan setelah banjir dan longsor.
- Kondisinya kian renggang dan rawan roboh, warga pun berencana patungan untuk memperbaikinya.
BANGKAPOS.COM--Tiga bulan pascabencana banjir dan longsor yang menerjang Kabupaten Bener Meriah, warga di Kecamatan Mesidah hingga kini masih bertaruh nyawa melintasi jembatan darurat berbahan bambu di atas Sungai Wih Kanis.
Jembatan sederhana yang hanya bisa dilalui sepeda motor itu menjadi satu-satunya akses tercepat bagi ribuan warga setiap hari.
Pantauan di lokasi, kondisi jembatan terlihat mulai renggang dan rapuh. Bambu-bambu penyangga tampak aus diterjang arus sungai yang deras, sementara papan pijakan mulai longgar.
Meski berisiko, warga tetap melintas demi menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Iya, sekarang jembatan ini satu-satunya akses yang dipilih warga untuk melintas. Yang lewat beragam, ada petani, tenaga kesehatan, pegawai kecamatan, banyaklah pokoknya,” ujar Aman Gawa, warga setempat, Jumat (27/2/2026).
Dibangun Swadaya Saat Terisolasi
Jembatan darurat tersebut dibangun secara swadaya oleh masyarakat setelah jembatan permanen rusak diterjang longsor dan banjir bandang.
Inisiatif itu muncul karena wilayah Mesidah sempat terisolasi total akibat putusnya akses utama.
Kecamatan Mesidah sendiri menjadi salah satu kawasan yang mengalami kerusakan paling parah saat bencana melanda Bener Meriah.
Hingga kini, perbaikan jembatan permanen belum terealisasi.
Jadi Akses Vital 14 Kampung
Sebanyak 14 kampung di Kecamatan Mesidah menggantungkan mobilitasnya pada jembatan Wih Kanis.
Terutama desa-desa di wilayah kemukiman Tungku Tige yang sangat bergantung pada jalur tersebut untuk distribusi kebutuhan pokok dan hasil pertanian.
Setiap hari, ratusan petani melintasi jembatan untuk mengangkut hasil panen, termasuk kopi yang mulai memasuki masa panen bertahap.
“Ini kan sudah mulai panen kopi sedikit-sedikit. Kalau nanti panen raya bagaimana? Kalau terlalu banyak sepeda motor bermuatan berat lewat, bisa-bisa jembatan itu roboh. Sekarang saja sudah mulai renggang dan rapuh. Kalau rusak lagi, bagaimana nasib kami,” keluh Aman.
Meski tersedia jalur alternatif melalui rute Pondok Baru–Samar Kilang, warga enggan menggunakannya karena waktu tempuh bisa mencapai satu hingga dua jam.
| Joget Viral saat Operasi Pasien, Nasib Kini Perawat RSUD Datu Beru Takengon Aceh, Status PPPK |
|
|---|
| Sosok dan Kisah Tribrata, Anak Ferdy Sambo Selamatkan Bocah Hanyut di Sungai Aceh |
|
|---|
| Beda Perlakuan Terhadap Nurul Akmal, Atlet Angkat Besi Asal Aceh, Kini Hanya Jadi PPPK Paruh Waktu |
|
|---|
| Lubang Raksasa di Aceh Tengah Terus Meluas, Capai 3 Hektar dan Ancam Jalan hingga Sutet |
|
|---|
| Imbas Bencana Banjir Sumatera dan Aceh, Izin 28 Perusahaan Dicabut Presiden Prabowo, Tuai Pro Kontra |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Jembatan-darurat-di-Aceh-pasca-bencana-banjir.jpg)