Resonansi
Air Keras
Peristiwa terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus tidak boleh berhenti pada penyelidikan kriminal semata.
Penulis: Ade Mayasanto | Editor: Fitriadi
Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.
Editor in Chief
Bangka Pos/Pos Belitung
IRONI kembali datang tanpa suara. Andrie Yunus, seorang aktivis dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mendapat serangan penyiraman air keras.
Serangan itu justru datang saat kursi Presiden United Nations Human Right Council alias Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa disandang Indonesia.
Predikat itu ditetapkan secara resmi pada pertemuan Dewan HAM tanggal 8 Januari 2026, bertepatan dengan peringatan 20 tahun berdirinya Dewan HAM PBB.
Serangan air keras oleh orang tak dikenal muncul setelah Andrie rekaman siniar (podcast) bertajuk Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia. Saat itu, acara podcast berlangsung di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI) Jakarta.
Akibat serangan itu, Andrie mengalami luka bakar serius di sekujur tubuh, terutama area tangan kanan dan kiri, muka, dada dan bagian mata. Dari hasil pemeriksaan rumah sakit, ia mengalami luka bakar 24 persen.
Peristiwa semacam ini menambah deret panjang ingatan publik di Indonesia.
Sebelum Andrie, ada peristiwa serupa yang terjadi terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan pada 11 April 2017 silam.
Pagi itu, sepulang dari Salat Subuh, air keras dilemparkan ke wajah Novel Baswedan.
Akibat serangan, mata Novel rusak. Wajah berubah.
Negara butuh waktu lama untuk menemukan pelaku. Lebih lama sekedar menjawab pertanyaan yang lebih besar, yakni siapa yang memerintahkan.
Akhir kasus juga menimbulkan tanya besar karena kedua pelaku yakni Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette hanya dikenai hukuman masing-masing 1,5 dan 2 tahun penjara.
Keduanya terbukti melanggar pasal 353 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, Subsider pasal 351 ayat (2) KUHP Jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Cerita serupa juga terjadi di Rusia. Seorang jurnalis investigatif Anna Politkovskaya ditembak mata pada 2006 setelah bertahun-tahun menulis tentang kuasa negara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Ade-Mayasanto.jpg)