Resonansi
Jeda Koma di Selat Hormuz
Ketika Iran membuka dan kemudian menutup lagi dalam hitungan jam, Selat Hormuz bukan lagi sekedar arus lalu lintas
Penulis: Ade Mayasanto | Editor: Fitriadi
Selat Hormuz adalah urat nadi dunia. Tempat minyak menjadi bahasa, dan kapal tanker menjadi pengabar narasi keberuntungan.
Oleh karena itu, ketika Iran membuka dan kemudian menutup lagi dalam hitungan jam, Selat Hormuz bukan lagi sekedar arus lalu lintas. Ia menjadi pengabar atas percakapan global.
Percakapan yang lirih berwujud ancaman, kecemasan tanpa metafora pada Sabtu, 18 April 2026.
Saat itu, Iran akhirnya memilih menutup Selat Hormuz setelah sempat membuka jalur dan memperbolehkan rombongan tanker melintas.
Penutupan dilakukan karena Amerika Serikat dianggap melanggar janji.
AS ditengarai tetap memberlakukan blokade pada pelabuhan-pelabuhan Iran.
Blokade Angkatan Laut AS terhadap Pelabuhan Iran tetap berlaku penuh hingga Uwak Sam mencapai kesepakatan dengan Iran.
Tak ambil pusing, Komando gabungan militer Iran berbalik arah.
Mereka menyatakan kendali atas Selat Hormuz kembali ke keadaan semula, yakni di bawah pengelolaan dan pengawasan ketat Angkatan bersenjata.
Jeda yang semula kita kira menjadi tanda titik, ternyata hanya koma.
Jeda yang sempat ada, justru mirip seperti kabut. Muncul sebentar lalu menghilang ketika matahari mengantongi kepentingan.
Atas peristiwa di Selat Hormuz itu, para pihak kembali mendapatkan penanda. Penanda bahwa selat Hormuz adalah panggung kecil.
Mirip panggung drama lama siapa menguasai siapa, siapa menanti siapa, dan siapa lebih sabar dalam menahan nafas kecemasan.
Jalur sempit yang sepatutnya mengangkut begitu banyak kebutuhan dunia, berubah peran selaku penampung banyak ketidakpercayaan.
Selat yang semula menjadi checkpoint, berganti cerita menjadi titik cekik atas sebuah harapan dan rasionalitas perdamaian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Ade-Mayasanto.jpg)