Rabu, 29 April 2026

Program Makan Bergizi Gratis Dievaluasi, Banyak Siswa Bosan hingga Makanan Terbuang

Program Makan Bergizi Gratis dievaluasi setelah banyak siswa bosan menu dan makanan terbuang. Pemerintah fokuskan agar tepat sasaran

Penulis: M Zulkodri CC | Editor: M Zulkodri
Kolase KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU | Kompas.com
MBG --Program MBG menghadapi evaluasi setelah banyak siswa tidak menghabiskan makanan. Pemerintah kini fokus pada penerima yang benar-benar membutuhkan. 

Ringkasan Berita:Program MBG menghadapi evaluasi setelah banyak siswa tidak menghabiskan makanan. Pemerintah kini fokus pada penerima yang benar-benar membutuhkan.

BANGKAPOS.COM--Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak kini menghadapi tantangan di lapangan.

Di sejumlah sekolah, makanan yang dibagikan justru tidak dikonsumsi, memunculkan fenomena “bosan menu” hingga berujung pada potensi pemborosan anggaran.

Fenomena Piring Tak Tersentuh

Di berbagai sekolah, pemandangan kotak makan yang masih utuh mulai menjadi perhatian.

Sejumlah siswa mengaku jenuh dengan menu yang disajikan berulang, terutama lauk yang dinilai kurang variatif.

Kondisi ini membuat tujuan awal program MBG yakni memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup tidak sepenuhnya tercapai.

Bahkan, sebagian siswa lebih memilih membeli makanan di kantin dibanding mengonsumsi makanan yang telah disediakan.

BGN Lakukan Evaluasi dan Penyisiran

Merespons temuan tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah cepat dengan membentuk tim optimalisasi.

Tim ini bertugas mengevaluasi sekaligus memastikan program berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.

“Melalui penyisiran penerima manfaat ini, kami ingin menghindari pemborosan karena makanan tidak dimakan siswa,” ujar Nanik S Deyang dalam keterangannya, Senin (20/4/2026).

BGN juga akan memilah sekolah penerima manfaat.

Sekolah swasta dengan biaya tinggi berpotensi tidak lagi masuk dalam program, sementara sekolah negeri di kawasan tertentu akan diseleksi melalui kuesioner kepada siswa.

Temuan Lapangan: Siswa Jenuh Menu

Dari hasil inspeksi mendadak di sejumlah sekolah di Jakarta, ditemukan banyak makanan tidak tersentuh. Alasan yang muncul pun sederhana: siswa merasa bosan.

“Ada yang bilang lauknya telur terus, ada juga yang lebih memilih makan di kantin,” ungkap Nanik.

Temuan ini menjadi sinyal bahwa selain aspek gizi, variasi menu juga berperan penting dalam keberhasilan program.

Kritik: Harus Lebih Tepat Sasaran

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved