Senin, 11 Mei 2026

Resonansi

Rupiah, Lagi-lagi

Pada Jumat, 8 Mei 2026, rupiah ditutup melemah 0,17 persen ke level Rp17.360 per dolar AS.

Tayang:
Penulis: Ade Mayasanto | Editor: Fitriadi
Dok. Ade Mayasanto
Ade Mayasanto, Editor in Chief Bangka Pos/Pos Belitung. 

Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.

Editor in Chief 
Bangka Pos/Pos Belitung


Nilai tukar mata uang Garuda kembali limbung. Bukan pertama kali otot rupiah kehilangan tenaga di hadapan dolar Amerika Serikat. 

Jumat, 8 Mei 2026, rupiah ditutup melemah 0,17 persen ke level Rp17.360 per dolar AS. Padahal dua hari sebelumnya, mata uang ini sempat memberi sedikit harapan dengan penguatan tipis sejak Rabu.

Tetapi harapan di pasar uang berumur pendek. Dolar AS kembali perkasa di pasar global setelah ketegangan Amerika Serikat dan Iran memanas. Dua negara itu saling melontarkan pernyataan keras.

Gencatan senjata yang baru berjalan sebulan mendadak terasa rapuh. Dan seperti biasa, negeri-negeri berkembang ikut menggigil.

Saat bersamaan, ada pula pola lama yang kembali berulang. Ketika investor global beramai-ramai memburu dolar AS demi menghindari aset berisiko, pasar domestik ikut kehilangan napas. Ditambah pembayaran imbal hasil aset keuangan kepada investor asing, dan permintaan dolar meningkat, rupiah akhirnya semakin terdesak.

Ancaman kurs Rp18.000 per dolar AS lagi-lagi terdengar. Dalam nada ancaman yang terdengar sayup-sayup, para analis menyebutnya dengan istilah yang rapi. Rupiah dalam tekanan eksternal, capital outflow, suku bunga The Fed, hingga ketidakpastian geopolitik.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga menjelaskan, pelemahan rupiah ini merupakan faktor global karena adanya kenaikan tensi geopolitik yang memicu meroketnya harga minyak, kemudian tekanan dari suku bunga AS serta meningkatnya indeks dolar (DXY) sebesar 4,41 persen. 

Kondisi ini memicu aliran dana keluar dari seluruh negara, termasuk emerging market.

Dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Kamis (7/5/2026) lalu, Perry menambahkan bahwa di tengah dinamika tersebut, pada bulan April hingga Mei, permintaan dolar di Indonesia tinggi sejalan dengan adanya musim Haji, serta repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri.

Istilah-istilah itu terdengar seperti ruangan berpendingin udara dingin, teknokratis, dan nyaris tanpa emosi. Padahal di balik bahasa ekonomi yang steril itu, ada kecemasan yang nyata. Sebab nilai tukar bukan cuma perkara angka di layar monitor bank. Ia merembet ke dapur rumah tangga, ke ongkos hidup, ke mimpi-mimpi kecil yang perlahan dipereteli keadaan.

Lihat seorang ibu yang mulai mengurangi telur dalam daftar belanja. Tengok mahasiswa yang diam-diam membatalkan rencana kuliah ke luar negeri karena biaya makin mustahil dijangkau. Atau buruh angkut di Lhokseumawe yang mendadak sibuk ketika penyaluran beras dilakukan ke berbagai daerah, karena pertanda ada kecemasan yang mulai dijaga sejak awal.

Namun setiap krisis juga menyimpan ironi. Ketika rupiah melemah menuju Rp18.000, ada kelompok yang justru menikmati situasi. Eksportir mendapat durian runtuh. Pemilik tabungan dolar melihat simpanannya mendadak lebih perkasa. Bagi mereka, kurs tinggi bukan ancaman, melainkan peluang.

Di situlah ketimpangan memperlihatkan wajahnya tanpa tedeng aling-aling.

Krisis ternyata tidak dibagi rata. Ada yang harus mengecilkan mimpi, mengurangi makan, menunda kebutuhan, bahkan menerima pelemahan daya beli sebagai sesuatu yang alamiah. 

Sementara di sisi lain, ada yang berharap dolar bertahan tinggi selama mungkin. Itulah yang terjadi di republik ini. Terbiasa hidup dalam penyesuaian, bila ingin bertahan demi umur panjang. 

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved