Sabtu, 30 Mei 2026

Sosok Prihantini, Diduga Palsukan Riset Internasional di Denmark, Alumni FMIPA ITB dan UNY

Prihantini adalah alumni program magister matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB angkatan 2020.

Tayang:
Penulis: Fitri Wahyuni | Editor: Rusaidah
Tangkapan layar akun X @ardisatriawan
PEMALSUAN RISET -- Sosok Prihantini yang diduga memalsukan riset dalam konferensi ilmiah di Kopenhagen, Denmark. Ia ternyata merupakan lulusan magister ITB dan diduga jebolan FMIPA UNY. Selain itu, Prihantini juga terkonfirmasi sebagai penerima LPDP tahun 2022. 

Menurut Dwi, komunitas peneliti pneumonia asal Indonesia umumnya saling mengenal melalui publikasi ilmiah maupun jejaring akademik internasional.

“Gue sama teman gue aware karena dia pakai afiliasi Indonesia. Kalau kita baca paper tentang pneumonia di Indonesia orangnya itu-itu aja. Makanya kami scrutinize sampai ketahuan kayak gini karena dia afiliasinya Indonesia,” ujar Dwi.

Kecurigaan semakin menguat karena Prihantini disebut menghindari interaksi dengan delegasi Indonesia lain selama konferensi berlangsung.

Saat diajak berbincang, ia disebut memperkenalkan diri menggunakan nama berbeda kepada orang yang berbeda.

Tak hanya itu, Dwi juga menemukan sejumlah kejanggalan dalam data penelitian yang dipresentasikan. Salah satunya terkait klaim pengumpulan data primer di wilayah Andes, Peru, tanpa melibatkan kolaborator lokal.

“Mereka tuh ngumpulin data di Andes. Ngumpulin data dan enggak ada sama sekali kolaborator lokal di negara itu impossible untuk melakukan penelitian kayak gitu di negara orang. Itu salah satu keanehan yang paling menonjol,” ungkapnya.

Dwi kemudian mengikuti sesi presentasi yang dijadwalkan atas nama “Riana Dwi Kurniawati” dengan judul penelitian “Urban Heat Islands and Ageing Lung Vulnerability: Mapping Pneumococcal Pneumonia Risk and Climate-Exposed Older Adult Hotspots in LMIC Megacities”.

Dalam sesi tersebut, perempuan yang diduga Prihantini memperkenalkan diri dengan nama “Riana”. Namun sekitar 10 menit kemudian, perempuan yang sama disebut kembali tampil di sesi berbeda dengan mengganti jilbab menjadi warna merah dan menggunakan identitas bertuliskan nama “Dimas Fajar Prasetyo”.

Ia kemudian mempresentasikan penelitian lain berjudul “AI-Fused Satellite Climate, Urban Heat and PCV Uptake to Prioritise Pneumococcal Booster Strategies for Frail Older Adults in LMIC Megacities” dan memperkenalkan diri sebagai “Dimas”.

Nama Prihantini sendiri diketahui tidak tercantum sebagai penulis dalam dua penelitian tersebut. Namun berdasarkan laman resmi ISPPD, ia mengirimkan lima judul penelitian yang dipamerkan dalam bentuk poster ilmiah.

Lima penelitian itu di antaranya membahas pemanfaatan AI, machine learning, transcriptomic analysis, hingga pemodelan matematika untuk pneumonia pneumokokus.

Dalam daftar penulis, Prihantini dan Rifaldy Fajar menggunakan afiliasi AI-Biomedicine Research Group, IMCDS Biomed Research Foundation Jakarta. Sementara Rini Winarti mencantumkan afiliasi Departemen Biologi Universitas Negeri Yogyakarta.

Kasus ini memicu perdebatan luas di kalangan akademisi terkait integritas penelitian, penggunaan kecerdasan buatan dalam publikasi ilmiah, hingga sistem verifikasi dalam konferensi internasional.

(Bangkapos.com/Tribunnews.com/TribunJatim.com)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved