Mutiara Ramadhan
Berguru Pada Sahabat Spiritual
Sahabat spiritual bisa berupa orang-orang biasa yang petunjuknya senantiasa mengalir di dalam diri kita.
Oleh, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar
Salah satu tanda jika Allah SWT mencintai hamba-Nya adalah Ia mengutus kepadanya sahabat spiritual (al-shuhbah).
Dalam ilmu tasawuf, al-shuhbah sangat dibutuhkan oleh setiap orang.
Orang yang tidak memiliki sahabat spiritual dikhawatirkan hidupnya akan menjadi kering, gersang, dan menghabiskan umurnya tanpa mencapai apa yang diharapkan.
Sahabat spiritual dirasakan keberadaannya di dalam hati.
Baca juga: Belajar dari Kisah Hidup Luqmanul Hakim
Mereka mungkin agak berbeda dengan sahabat-sahabat fragmatis kita di lingkungan kerja dan paguyuban lainnya.
Persahabatan spiritual merupakan prasyarat untuk lahirnya sebuah masyarakat yang santun dan terhormat.
Jika sahabat spiritual hilang di dalam masyarakat, maka berkah dalam kehidupan bermasyarakat itu pun akan hilang.
Sesungguhnya sahabat spiritual tidak mesti orang yang luar biasa, yang seolah mampu menebak rahasia masa lalu dan masa depan kita.
Sahabat spiritual bisa berupa orang-orang biasa yang petunjuknya senantiasa mengalir di dalam diri kita.
Mereka bukan orang yang membukakan pintu, tetapi menghilangkan tabir antara diri kita dan dirinya.
Mereka bukan orang yang menuntun kita dengan ucapan, tetapi mengalirkan vibrasi dan energi spiritual.
Mereka mengeluarkan kita dari hawa nafsu dan memasukkan ke hadirat Allah SWT.
Mereka selalu membersihkan cermin batin kita sehingga tampak jelas cahaya Tuhan.
Mereka membangkitkan harapan dan optimisme sehingga kita tidak putus asa dengan kasih Tuhan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20241021-Profil-Nasaruddin-Umar-Tokoh-NU-Berpendidikan-5-Kampus-Luar-Negeri-Kini-Menteri-Agama.jpg)