Tribunners
Ramadhan dan Emotional Intelligence: Perjalanan Spiritual Menuju Pengendalian Diri
Emotional intelligence memuat lima aspek penting yaitu kesadaran, pengaturan diri, motivasi, empati dan keterampilan sosial.
Tulisan ini fokus pada dimensi spritualitas Ramadhan dalam kaitannya dengan emotional intelligence atau self control ketika orang melakukan puasa.
Mauer & Slovey menyebutkan emotional intelligence dengan himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.
Sedangkan menurut Daniel Goleman emotional intelligence adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan intelegensi, menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya melalui ketrampilan kesadaran diri, pengendalian diri, memotivasi diri, empati dan ketrampilan sosial.
Lebih jauh Goleman menyebutkan dengan kemampuan mengenali, mengelola emosi diri, memotivasi diri, berempati serta membangun hubungan sosial.
Emotional intelligence memuat lima aspek penting yaitu kesadaran, pengaturan diri, motivasi, empati dan keterampilan sosial.
Kelima aspek ini bermuara pada akal dan nafsu yang ada pada diri manusia.
Dalam perspektif Islam, Tuhan telah memberikan kita akal untuk menuntun nafsu kita.
Kombinasi akal dan nafsu hanya ada pada manusia dan tidak diberikan pada mahluk lain.
Malaikat sebagai mahluk yang ghaib tidak memiliki nafsu tetapi memiliki akal sekalipun secara fungsional statis
yang hanya tunduk pada perintah Allah.
Sedang mahluk Tuhan yang lain seperti binatang tidak memiliki akal tetapi memiliki nafsu.
Kombinasi akal dan nafsu ini telah menempatkan manusia sebagai mahluk mulia yang dideskripsi Tuhan dalam firmanNya surah 95 ayat 4 "Lakod kholaqnal-insaana fii ahsani taqwiim" yaitu sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya".
Akan tetapi pada ayat selanjutnya ayat 5 dan 6 Allah menegaskan "Summa rodatnahu asfala saafiliin, illa allazina aamanu wa amilus shoolihati ...." kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh. "
Karena secara fungsional akal pada satu sisi dapat membimbing nafsu dan pada sisi yang lain dapat tunduk kepada nafsu. Ketika akal dikalahkan nafsu, maka manusia jatuh dalam kehinaan (asfala saafiliin).
Ketika orang berpuasa tidak mampu mengalahkan nafsunya, maka puasa menjadi sia-sia yaitu hilang pahala puasanya dan bahkan batal.
Nabi menggambarkan puasa sia-sia itu dengan sabdanya 5 ("tidak sedikit orang yang berpuasa hanya memperoleh lapar dan dahaga."
Meraih Hasil Maksimal Puasa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Prof-Zayadi-Guru-Besar-IAIN-SAS-Bangka-Belitung.jpg)