Tribunners
Ramadhan dan Emotional Intelligence: Perjalanan Spiritual Menuju Pengendalian Diri
Emotional intelligence memuat lima aspek penting yaitu kesadaran, pengaturan diri, motivasi, empati dan keterampilan sosial.
Untuk mencapai hasil puasa maksimal sesuai perintah nabi, orang berpuasa harus mampu mengendalikan hawa nafsu yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya.
Hal tersebut terkait dengan hakekat puasa itu sendiri yaitu pengendalian diri, baik dari aspek nafsu maupun emosi.
Puasa melatih diri kita mengendalikan nafsu dan emosi yang melekat pada diri kita sebagai anugerah Tuhan.
Puasa merupakan media bagi orang berpuasa untuk melatih diri dan proses pengendalian diri.
Kontrol terhadap nafsu biologis seperti makan minum membutuhkan pembatasan secara syariah.
Kontrol terhadap nafsu ekonomis juga butuh dilatih, seperti perintah memperbanyak infaq dan sodaqoh dalam beragam bentuk dan momen. Sementara itu kontrol terhadap emosi juga dilatih.
Emosi itu adalah ekspresi normal manusia atas berbagai hal yang terjadi ketika kita berpuasa.
Misalnya, ketika kita merasa senang terhadap sesuatu, merasa kesal terhadap seseorang atau merasa sedih tertimpa suatu masalah.
Menahan marah, sabar, dan mampu mengelola emosi sehingga berdampak pada perilakunya terhadap orang lain.
Perilaku yang terbentuk sebagai manipestasi wujud kesabaran dan pengendalian emosi akan melahirkan akhlak yang terpuji mulia secara vertikel kepada Allah dan horizontal sesama manusia.
Pengendalian diri ketika berpuasa memuat keseluruhan pancaindra kita, semisal manahan mata dari pandangan yang tidak baik, menahan pendengaran dari gunjingan dan lainnya.
Ketika seseorang telah mmpu mengelola emosinya dengan baik dan berdampak pada perilakunya terhadap orang lain, maka dia telah mencapai emotional intelligence yang kuat.
Menurut Cardon, kuatnya emotional intelligence pada akhirnya terciptalah apa yang disebut dengan good interpersonal skill.
Terciptanya good interpersonal skill menunjukkan puasa melatih kita untuk mengelola emosi diri yang pada akhirnya dapat menciptakan hubungan sosial yang baik dan harmonis.
Selain terciptanya hubungan sosial yang baik secara sosiologis, kuatnya emotional intelligence dapat pula menciptakan hubungan vertikal secara teologis dengan Tuhan melalui spiritualitas puasa sesuai dengan tujuan dari puasa itu sendiri yaitu meraih derajat takwa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Prof-Zayadi-Guru-Besar-IAIN-SAS-Bangka-Belitung.jpg)