Kamis, 7 Mei 2026

Ramadhan 2026

Ramadhan Berdampak

Ranah spiritualitas ilahiyah dan basyariah seharusnya istiqomah dan kontinuitas pada hari-hari pasca Ramadhan sampai ketemu Ramadhan berikutnya.

Tayang:
Editor: Fitriadi
Dokumentasi Zayadi Hamzah
Prof Dr Zayadi, Guru Besar IAIN Syaikh Abdurrahman Sidik Bangka Belitung. 

Di dunia terlindungkan dari perbuatan keji dan maksiat serta godaan hawa nafsu yang cenderung kepada kejahatan. Sedangkan di akhirat dia terlindung dari siksaan api neraka.

Pertanyaannya, seperti apa puasa yang dijanjikan pengampunan dosa dan menjadi perisai serta mencapai derajat takwa?

Dalam kaitan ini Nabi memberikan indikasi dalam haditsnya tentang puasa yang sia-sia tidak memiliki dampak pahala maupun terampuni dosa, sehingga jauh dari takwa.

Sabdanya: "Tidak sedikit orang yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga".

Hadits ini menjadi simbol bahwa puasa tidak berdampak baik secara individual maupun sosial. 

Karena Ramadhan memang bukan sekadar bulan tahan lapar sambil menunggu tibanya azan maghrib seperti menunggu rencana kenaikan gaji yang katanya sedang dibahas.

Puasa sebatas menahan lapar dan dahaga secara biologis, tetapi tidak mempuasakan pancaindera secara batiniah semisal masih berkata bohong, membicarakan kejelekan orang lain, tidak bisa menahan amarah serta tidak menjaga pandangan dan pendengaran dari yang haram. 

Puasa sejenis ini terlepas dari tuntutan syariat, tetapi tidak mendapat pahala dari puasanya.

Puasa yang seharusnya berada dalam ruang privat atau kontemplasi batiniah berubah menjadi tameng religius menjadi konsumsi gunjingan di ruang publik. 

Ada pula orang yang berpuasa dan mengisi Ramadhan dengan beragam ibadah, tetapi belum mampu membawanya mendekat kepada hakikat dirinya. 

Karena inti dari puasa itu pengendalian diri yang mendidik batiniah kita dari hati yang keras menjadi lembut, dari mata yang tertutup terhadap kebaikan, dari egois menjadi peduli antar sesama. 

Bagaimana puasa dapat memelihara dan mendidik batin kita menjadi pribadi religius dalam mencapai derajat takwa. 

Ketika kita sampai pada dataran ini, ibadah puasa kita memiliki dampak secara individual dan sosial yang sering dinarasikan dengan dimensi ilahiah dan dimensi sosial. 

Dampak puasa pada dimensi ilahiah bermuara pada niat. Karena puasa adalah ibadah hati sebelum 
menjadi ibadah biologis secara fisik.

Puasa dimulai dari sesuatu yang tidak terlihat tetapi menentukan keabsahan puasa kita. Itulah yang disebut dengan niat.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved