Horizzon

Episode PPKM Masih Berlanjut

MENGINGATKAN saja, meski tak seheboh dua bulan lalu, atau sekitar bulan Juni atau Juli 2021, Covid-19 masih ada di sekitar kita

Editor: suhendri
BangkaPos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP 

MENGINGATKAN saja, meski tak seheboh dua bulan lalu, atau sekitar bulan Juni atau Juli 2021, Covid-19 masih ada di sekitar kita.

Setiap hari, Satgas Covid-19 masih rajin mencatat angka-angka terkonfirmasi positif. Satgas juga masih telaten mengentri angka-angka kematian yang kebetulan dikaitkan dengan Covid-19.

Seperti kisah-kisah sebelumnya, jumlah kasus yang terus bertambah, yang bahkan kita sudah tak peduli lagi berapa angkanya adalah 'bahan dasar' dari kisah panjang Covid-19.

Sama juga dengan jumlah kematian yang terus dikaitkan dengan Covid-19, kita hanya akan melihat angkanya saja. Terkait dengan kematian, maka yang epik adalah angka-angkanya.
Untuk itulah agar angka-angka ini tetap menjadi bagian yang epik dari kisah besar ini, maka soal penyebab sesungguhnya tak perlu diulas tuntas.

Baca juga: Jika Pandemi Itu Nyata, Maka Cuti Bersama Akhir Tahun Harus Batal

Baca juga: Dari Jurus Nasi Kucing Hingga Keranda Mayat

Baca juga: Mengeja Tahun Pagebluk 2020

Tanpa sadar, kita telah menggunakan excel template yang sudah disiapkan secara global untuk mencatat dari setiap kasus kematian yang terjadi. Hasilnya, dengan sangat terstruktur, sistematis dan masif, kita bisa melihat bagaimana angka-angka kasus dan kematian ini bisa sangat rapi dan mudah kita akses.

Bagaimana dengan penyebab sebenarnya atas setiap kasus kematian yang terjadi? Sekali lagi, soal penyebab bukanlah bagian penting dari kisah yang sedang kita mainkan. Jika pun setiap kasus kematian hampir pasti ada komorbidnya, maka itu hanya menjadi catatan kecil di luar program excel yang sudah ada template-nya.

Tanpa sadar, kita juga mengikuti skenario yang sedang dimainkan tentang virus yang dikatakan berbahaya. Kita coba uji dengan sebuah pertanyaan sederhana tentang banyaknya orang terpapar Covid-19, namun hanya memunculkan gejala ringan atau bahkan tanpa gejala.

Meski kita tahu bahwa kebanyakan kasus tidak memunculkan gejala dan orang yang terpapar baik-baik saja, maka kisah-kisah ini tak pernah mendapatkan panggung utama di tema pembicaraan kita.

Baca juga: Besok 6 September 2021 Berakhir, Satgas Covid-19 Ungkap Alasan PPKM Diperpanjang Lagi

Baca juga: Giliran GeNose yang Ingkar Janji

Lalu bagaimana dengan regulasi yang diambil pemerintah untuk menghadapi situasi ini? Pertanyaan soal ini sebaiknya kita buka kembali kamus di google yang memotret dengan jelas jejak-jejak kebijakan yang pernah diambil pemerintah kita menghadapi pandemi yang belakangan juga diplesetkan menjadi plandemi ini.

Covid-19 adalah sesuatu yang baru, untuk itu kita semua termasuk pemerintah juga sedang belajar untuk menghadapinya. Masih ingat dengan jurus nasi kucing ala Budi Karya Sumadi yang menjadi alasan Covid-19 tak akan masuk Indonesia?

Kita ingat betul di awal-awal Covid-19 pemerintah kita justru paling abai menyikapi ini. Celotehan pejabat publik kita bahkan ada yang mengatakan bahwa Covid-19 akan sulit masuk ke Indonesia lantaran perizinan yang sulit.

Kita semua tengah belajar dan kita semua tengah berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Demikian juga dengan pemerintah kita yang juga mulai menyesuaikan diri dengan Covid-19. Apalagi, dalam proses belajar tersebut, banyak opportunity yang ditemukan dalam proses belajar.

Munculnya opportunity ini bisa kita lihat dengan munculnya kebijakan aneh. Kita tahu, anak-anak bangsa ini mampu membuat GeNose untuk mendeteksi Covid-19 dengan sangat mudah, simpel, murah, dan akurat. Selain itu, bangsa ini juga mampu melahirkan vaksin Nusantara namun kita lebih memberi ruang kepada vaksin asing atau antigen buatan luar negeri.

Baca juga: Menunggu Nasib GeNose C-19 yang Belum Kantongi Lisensi WHO

Kita tahu, politik anggaran kita saat berstatus tanggap darurat maka pengadaan tak perlu lelang dan disitulah opportunity bagi mereka. Karya anak negeri, kebanggaan atas hasil karya anak bangsa disingkirkan demi opportunity yang diperoleh dari celah status pandemi yang menjanjikan keuntungan pribadi.

Mungkin jika GeNose dan vaksin Nusantara mampu memberikan peluang bagi oknum-oknum pengambil kebijakan, nasib mereka tak seburuk saat ini. Namun karena dari sisi ekonomi, GeNose dan vaksin Nusantara tak sesuai dengan skema global, GeNose dan vaksin Nusantara hanya akan menjadi kisah sampingan yang cepat tamat.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved