Breaking News:

Ramadhan

2030 Akan Ada 2 Kali Ramadan dan 2 Kali Idul Fitri, Ini Penjelasan Lapan dan LIPI

Fenomena seperti ini sebenarnya bukan kali ini saja terjadi, tapi sudah beberapa kali dialami umat muslim.

Editor: fitriadi
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
Masyarakat saat melaksanakan salat Tarawih berjamaah perdana di Masjid Jamik Pangkalpinang, Bangka Belitung, Sabtu (2/4/2022) malam. Para jamaah tampak khusyuk melaksanakan ibadah keagamaan di bulan Ramadan. 

Penjelasan LIPI

Peneliti Pusat Sains dan Antariksa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonenesia ( LIPI), Andi Pangerang membenarkan bahwa pada tahun 2030 akan mengalami dua kali bulan Ramadan.

"Di tahun 2030 nanti fase bulan baru awal Ramadan-nya tanggal 4 Januari pukul 09.49.23 WIB (1451 H) dan 25 Desember 00.32.04 WIB (1452 H), sehingga 1 Ramadan 1451 H jatuh pada 5 Januari 2030 dan 1 Ramadan 1452 H jatuh pada 26 Desember 2030," jelas Andi dikutip dari Kompas. com, Senin (3/5/2021).

Baca juga: INILAH Doa Mustajab Malam Lailatul Qadar Beserta Artinya, Termasuk Doa Memohon Ampun dan Pertolongan

Andi menyebut, peristiwa serupa juga pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya, misalnya pada tahun 1997 dan 1965.

Pada 1997, 1 Ramadan 1417 H jatuh pada 11 Januari dan 1 Ramadan 1418 jatuh pada 31 Desember.

Siklus 32-33 tahun sekali

Jika melihat pola kejadiannya yakni di tahun 1965, 1997, dan 2030 maka pada 32 atau 33 tahun tahun sekali, Ramadan memang akan jatuh 2 kali dalam setahun Masehi.

"Seperti kita tahu, rata-rata periode sinodis Bulan (Bulan segaris dengan Matahari) setiap 29,53 hari sekali. Berarti 1 tahun Hijriah rata-rata 354,37 hari. Jika 1 tahun Masehi rata-rata 365,24 hari (jadi) selisihnya hampir 11 hari," jelas Andi.

"365,24 ÷ 11 = 33 tahun sekali, terkadang 33 terkadang 32," lanjutnya.

Baca juga: Inilah 8 Manfaat Puasa Ramadan Untuk Kesehatan Tubuh, Diajarkan Agama dan Terbukti Secara Ilmiah

Andi menjelaskan mengapa untuk menentukan jatuhnya bulan baru di tahun Hijriah diperlukan perhitungan khusus, sementara pada tahun Masehi tidak demikian.

"Ya karena berbasis ketampakan Bulan dan ketidakteraturan gerak Bulan, maka perlu dihitung dan dikonfirmasi dengan pengamatan," pungkas dia. ***

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved