Horizzon

Melacak Jejak 'Sambo' di Babel

Kasus Baleno terbakar hanya bagian kecil dari karut-marut praktik pertambangan ilegal di Bangka

Editor: suhendri
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP 

Di penghujung tahun 2021, Bangka Belitung, utamanya di Pulau Bangka, terjadi kelangkaan BBM lantaran jalur pengiriman yang terganggu cuaca. Selama berminggu-minggu, antrean kendaraan mengular di mulut SPBU.
Krisis BBM ini bahkan membuat harga pertalite di tingkat eceran menyentuh angka Rp15 ribu hingga pada saat-saat krusial menyentuh angka Rp20 ribu per liter.

Krisis BBM ini mengundang keprihatinan semua pihak lantaran publik sudah mulai panik dan bahkan juga berpengaruh pada naiknya sejumlah harga komoditas. Kasus ini menjadi atensi semua pihak termasuk Gubernur, Kapolda, Danrem dan semua pihak berjibaku untuk ikut mengatasi masalah ini.

Tanggal 13 Desember 2021 petang, situasi masih sama dengan hari-hari sebelumnya, setiap ada SPBU yang buka selalu diwarnai dengan antrean kendaraan, tak terkecuali di SPBU 24.331.115 Jalan Koba.

Baca juga: Baleno Terbakar di SPBU Jalan Koba dan Bom Bali I

Namun sebuah insiden 'kecil' terjadi di SPBU tersebut. Sebuah sedan Baleno BN 1587 LK tiba-tiba terbakar saat mengisi BBM. Tidak ada korban jiwa dalam kasus ini, bahkan kesigapan warga dan petugas SPBU juga berhasil mendorong mobil yang terbakar tersebut ke mulut pintu keluar SPBU sehingga kebakaran bisa dilokalisasi dan tidak merembet hingga ke SPBU.

Dalam olah TKP yang dilakukan, di dalam mobil tersebut ditemukan jeriken dan selang infus yang biasa digunakan oleh para pengerit atau penimbun BBM. Larinya pemilik atau pengemudi Baleno tersebut menguatkan dugaan bahwa mobil tersebut memang sedang melakukan aktivitas mengerit.

Sayang, hingga saat ini, kasus yang mencederai rasa keadilan publik Babel yang sedang resah dengan kelangkaan BBM ini tak pernah terungkap. Polisi mengaku kesulitan untuk menemukan siapa pemilik mobil Baleno tersebut.

Jawaban super aneh juga disampaikan pihak Reskrim Polres Pangkalpinang bahwa mereka kesulitan mengidentifikasi mobil lantaran menggunakan nomor polisi palsu. Saat ditanya soal nomor rangka dan nomor mesin, polisi menyebut keduanya ikut hancur saat mobil terbakar.

Padahal kita semua tahu, mobil tersebut terbakar hanya hitungan menit dan bahkan bagian depan mobil masih utuh dan nomor polisinya juga masih tampak dengan jelas. Jawaban bahwa nomor rangka dan nomor mesin rusak terbakar patut diyakini adalah jawaban bohong.

Polisi lupa bahwa kasus Bom Bali terungkap justru saat mereka berhasil mengumpulkan serpihan mobil box yang dengan teknologi yang dimiliki kepolisian mampu menyusun dan mengonstruksikan nomor rangka dengan cairan kimia. Sementara itu, Baleno yang terbakar di Jalan Koba kala itu masih utuh.

Jawaban Satreskrim Polres Pangkalpinang yang seolah-olah merasa kesulitan mengungkap pemilik Baleno ini juga berbeda dengan komentar dari Kapolsek Pangkalanbaru saat itu yang menyebut bahwa pihaknya telah mengetahui identitas berikut rumah dari pemilik mobil Baleno yang terbakar.

Baca juga: Merunut Jejak Digital Baleno Terbakar di SPBU Jalan Koba

Boleh jadi, polisi masih berpikir bahwa me-86-kan kasus Baleno terbakar di SPBU Jalan Koba ini lantaran beralasan tidak ada korban jiwa dan kerugian materiel yang terjadi sebatas kepada pemilik mobil. Jika memang betul demikian alasannya, bagaimana Kapolda Babel, atau Kapolres Pangkalpinang memaknai rasa keadilan publik yang terluka akibat kasus ini?

Kita tahu, BBM di Bangka Belitung adalah masalah yang krusial, di mana BBM bersubsidi diduga sering lari ke sektor pertambangan ilegal. Jika Baleno tersebut tidak terungkap, apakah benar dugaan publik bahwa Baleno tersebut adalah bagian dari mafia larinya BBM bersubsidi yang lari ke sektor tambang ilegal? Dan jika Baleno tersebut adalah benar bagian dari mafia, maka di mana posisi polisi?

Ingat, kasus Baleno terbakar adalah bagian kecil dari silang sengkarut pertambangan ilegal di Bangka Belitung. Kita juga tahu bagaimana bijih timah milik negara dicuri terus-menerus dan diduga lari ke smelter swasta dan terus kita diamkan.

Baca juga: Catatan Terakhir untuk Baleno BN 1587 LK

Kita juga tahu dan sudah menjadi rahasia umum bagaimana terjadi praktik tebang pilih terhadap praktik-praktik penambangan ilegal yang dilakukan masyarakat kecil. Atau perlu juga kita sampaikan soal jatah pengondisian penambangan timah yang sebenarnya ilegal namun tetap berjalan lantaran ada setoran rutin ke sejumlah pihak.

Kasus Baleno terbakar hanya bagian kecil dari karut-marut praktik pertambangan ilegal di Bangka. Jika kasus ini bisa diberhentikan meski mencederai rasa keadilan, apakah ini juga lantaran pengaruh Sambo?

Sumber: bangkapos
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved