Tribunners
Aktualisasi Pemikiran Soekarno tentang Pancasila
Pancasila harus dipahami sebagai sumber atau dasar moralitas setiap warga negara dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara
Jadi musyawarah adalah suatu upaya bersama dengan sikap rendah hati untuk memecahkan persoalan dan mencari jalan keluar guna mengambil keputusan bersama yang menyangkut urusan keduniawian.
Musyawarah untuk mencapai mufakat dilakukan dengan hikmat kebijaksanaan mengandung arti menggunakan hati dan pikiran yang jernih dalam menetapkan suatu keputusan.
Kata adil jika disandingkan dengan kata sosial memiliki makna orang yang adil selalu bersikap imparsial, suatu sikap yang tidak memihak kecuali kepada kebenaran.
Bukan berpihak karena pertemanan, persamaan suku, ras, bangsa maupun agama. Keadilan adalah milik seluruh umat manusia tanpa memandang suku, agama, status jabatan, ataupun strata sosial.
Keadilan sosial bermakna seseorang harus dapat membuat penilaian objektif dan kritis kepada siapa pun dalam kehidupan bermasyarakat.
Mengakui adanya kebenaran, kebaikan, dan hal-hal positif yang dimiliki individu yang berbeda agama, suku dan bangsa dan dengan lapang dada membuka diri untuk belajar serta dengan bijaksana memandang kelemahan dan sisi-sisi negatif.
Pancasila harus dipahami sebagai sumber atau dasar moralitas setiap warga negara dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Moral yang mengatur pikiran, ucapan, dan tindakan yang berkenaan dengan kebaikan dan keburukan.
Menjadi bagian dari bangsa Indonesia adalah sebuah amanah besar guna menjaga komitmen epistemologis yang terkandung dalam rumusan Pancasila.
Pancasila bukan hanya sekedar pesan epistemologis, tetapi harus sampai kepada amalan sebagai warga negara.
Menjalankan perintah agama dengan sebaik-baiknya, mengutamakan adab dalam setiap langkah dan tindakan, mewujudkan keadilan pada manusia, menjunjung tinggi prinsip persatuan, menghargai perbedaan dan pendapat, menjaga dan berbuat baik dan adil kepada sesama dan alam semesta.
Demikian ajaran filosofis Pancasila, ia tidak hanya berkutat di ruang pikiran saja, tetapi nilainya dapat ditemukan di segala ruang kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tugas kita sebagai warga negara ialah menjaga amanah pendiri bangsa ini, agar benar-benar menjadi ijtihad yang bersumber pada kebenaran yang hakiki.
Soekarno pernah berpesan tentang "jas merah", jangan sesekali melupakan sejarah.
Pesan ini mengandung makna yang sangat mendalam, agar generasi penerus bangsa Indonesia tidak lalai dan latah dengan identitas bangsanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/dirut-bumd-pt-b3s-saparudin-udin.jpg)