Tribunners
Banyak Bacakada Mendaftar, Kesadaran Politik Masyarakat Makin Tinggi
Saya mengelompokkannya menjadi tiga kelompok yang mendaftar. Kelompok pertama adalah orang yang ikut-ikutan mencalon secara serius, Dia tidak ...
Oleh: Datuk H Ramli Sutanegara, Pemerhati dan Tokoh Politisi Senior
PEMILIHAN kepala daerah (pilkada) akan dilakukan serentak di seluruh Indonesia tahun 2024. Termasuk, di antaranya pilkada di kabupaten/ kota dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Ada fenomena banyak bermunculan para bakal calon kepala daerah (bacakada) yang mendaftar mengambil formulir untuk calon gubernur dan wakil gubernur, wali kota dan wakil wali kota serta hupati dan wakil bupati. Mereka mendaftar di partai politik, Beragam latar belakang yang dimiliki para bacakada yang ikut mendaftar berkontestasi secara demokrasi.
Melihat fenomena ini, penulis yang merupakan tokoh tiga zaman yang pernah menjadi anggota DPRD 15 tahun dan MPR RI 5 tahun, mendirikan Partai Gerindra dan Partai Nasdem, turut mengamati perkembangan di Bangka Belitung. Dimana banyaknya yang mencalonkan diri sebagai bacaka menandakan kesadaran politik masyarakat sudah makin tinggi.
Saya mengelompokkannya menjadi tiga kelompok yang mendaftar. Kelompok pertama adalah orang yang ikut-ikutan mencalon secara serius, Dia tidak mengharapkan untuk menjadi calon hanya mendaftar sebab dengan adanya mereka mendaftar, maka namanya akan makin dikenal masyarakat. Biasanya mereka tidak mengembalikan formulir.
Kelompok kedua adalah mereka yang ingin menjadi bakal calon dan calon tetapi dengan persiapan yang kurang memadai. Kata pepatah Melayu, seperti kain sarung. Dipakai menutup kepala, kaki kelihatan, dipakai menutup kaki, kepala kelihatan. Biasanya yang seperti ini sulit untuk berhasil menjadi calon.
Kelompok ketiga adalah orang-orang yang berminat serius untuk menjadi calon dan terpilih sebagai gubernur. bupati atau wali kota. Orang seperti ini sudah seharusnya jauh-jauh hari membangun popularitas, dikenal luas oleh masyarakat. Kemudian dapat dilihat elektabilitasnya lewat survei yang jujur. Lalu didukung oleh kesiapan finansial yang tidak tanggung-tanggung karena masyarakat sekarang sudah terbangun jiwa transaksional. Masyarakat tidak ingin baju kaus. kalender, ataupun sembako.
Namun paling banyak tiga orang yang kelihatan sudah siap. Tinggal lagi masyarakat menilai dari segi pengalaman, pendidikan, dan perilaku di tengah masyarakat yang diyakini akan dapat berhasil.
Dalam hal ini, saya tidak membanding-bandingkan dulu dan sekarang. Kalau dulu calon pemimpin itu sudah kelihatan, sudah dapat ditebak karena kariernya dalam masyarakat cukup mumpuni. Karena apabila memimpin daerah harus membawa muruah daerah dan kemampuan berkomunikasi adalah utama, khususnya komunikasi dalam berbahasa asing.
Pemimpin itu minimal menguasai bahasa inggris, berpendidikan yang mumpuni dan dulu melalui proses sosial engineering (pembentukan karakter) lewat pelatihan P4, tarpadnas (penataran kewaspadaan nasional) dan lainnya, dan menjauhi dari sifat nepotisme yaitu lebih mengutamakan kepentingan masyarakat daripada kepentingan keluarga. Untuk itu, masyarakat dapat melihat
latar belakang calon pemimpin yang akan dipilih, latar belakang kehidupan. Jangan sampai kita salah pilih, akan menyengsarakan negeri kita.
Pemimpin harus tahu diri. Sebagai pengayom masyarakat, dia harus menampilkan perilaku yang bijaksana dan bijaksini, tahu diri dan tahu
menempatkan diri. Artinya. ketika dia berada di tengah-tengah masyarakat, dia disenangi dan disegani, tidak merasa lebih pandai dari orang lain, dan tahu harga diri. Baik bukan takut, sayang bukan cinta.
Para calon wakil harus memahami hak, kewajiban, dan wewenang sebagai wakil dan yang lebih penting utuh. sampai akhir. Ingat dengan pepatah Melayu: jalan cepat tidak mendahului. lebih pandai tidak mengajari. (*/E5)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240522-Datuk-H-Ramli-Sutanegara-Pemerhati-dan-Tokoh-Politisi1.jpg)