Bangka Pos Hari Ini

Dampak Pabrik Sawit Aon Bos Timah Tutup, Pengepul Antarkan Sawit Sejauh 108 Km, Antre 2 Hari

Dampak Pabrik Sawit Aon Bos Timah Tutup, Pengepul Antar Sawit Sejauh 108 Km,  Antre 2 Hari. Simak kisah mereka

Penulis: Dedy Qurniawan CC | Editor: fitriadi
Bangkapos.com/Sepri Sumartono
Ilustrasi - Koordinator Aksi Kelompok Petani Sawit Bangka Selatan dan Bangka Tengah, Ruben Alfarobi saat orasi di Halaman Depan Kejati Babel- Dampak Pabrik Sawit Aon Bos Timah Tutup, Pengepul Antarkan Sawit Sejauh 108 Km,  Antre 2 Hari 

Namun sejak harus berkendara lebih jauh, ditambah harga yang juga tidak begitu bagus, Wawan harus pandai-pandai berhemat.

"Kita ngambil ujung sekitar Rp300 - Rp350 ke petani. Penentuan harga belinya juga kita ikut dari pabrik, kalau di pabrik bilang hari ini Rp2.500 berarti di petani, kita ngambil Rp2.200. Kita tetap ambil ujung Rp300 tadi kurang lebih," katanya.

"Kerja di sawit ini sebenarnya alhamdulillah, tercukupi lah keluarga amang. Cuma semenjak sekarang, ekonomi di rumah jadinya agak lesu. Jadi pintar-pintar kami lah buat hemat," lanjut Wawan.

Kalau Mau ke Pabrik Terdekat, Antrenya 2 Hari

Untuk menutupi biaya transportasi dan juga pertimbangan harga jual di pabrik, Wawan mengaku harus membawa cukup banyak buah sawit dalam satu kali perjalanan.

Setidaknya, dia harus bisa membawa 10 ton buah sawit per hari untuk diantar ke pabrik di Desa Kapuk.

“Kurang dari itu kita kalah di minyak, karena pulang perginya juga sudah habis Rp600 ribu," ungkapnya.

Meski bisa menutupi biaya minyak, namun dirinya tak menampik, ada efek samping lain apabila ia memaksa untuk menjual sawit di daerah yang tergolong jauh.

"Tetapi dari ban, kan juga makin tipis, dari rem juga, mesinnya, karena perjalanannya ini jauh, jadi perawatannya kan juga harus lebih sering," katanya.

Tak hanya itu, semenjak sering berpergian jauh, Wawan mengaku lebih sering bekerja malam dan merasakan letih karena proses perjalanan yang menguras waktu dan tenaga.

"Sekarang kita juga sering kerja sampai malam. Kemarin pun saya pergi jam 6 magrib, tahu-tahu balik rumahnya sampai jam 3 pagi," sebutnya.

Di lain sisi, pria yang sebelumnya menambang itu, juga bingung, apabila ingin menjual ke daerah yang tak terlalu jauh dari rumahnya.

Hal ini mengingat, di perusahaan tersebut juga mengalami antrean panjang, akibat menumpuknya para pengepul baru yang berasal dari CV MHL yang tutup beberapa bulan yang lalu.

"Kalau kita jual ke PT lain yang agak dekat, antre nya luar biasa. Di Ranggas itu sekitar 2 hari sekali bongkarnya. Misal, kami ngantar pagi, mungkin besok sore baru bongkarnya," ucap Wawan.

Selain itu, kata Wawan, ada juga perusahaan sawit yang tidak bisa sembarang dalam memasok sawit mereka.

Halaman
1234
Sumber: bangkapos.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved