Kamis, 16 April 2026

Jamaah Islamiyah Bubar

Wawancara Khusus: Baiat ke Jamaah Islamiyah Itu Memang Ada

Dua eks napiter, Dodi alias Fiko dan Ustad Hasan. Satu lagi Sabarno alias Amali, DPO 10 tahun, akhirnya menyerahkan diri setelah mendengar JI bubar.

Editor: fitriadi
Tribunnews/Sigit Ariyanto
Keterangan dari kiri ke kanan: Empat tokoh eks Jamaah Islamiyah yakni Abu Fatih alias Abdullah Anshori, Sabarno alias Amali, Dodi alias Fiko, dan Ustad Hasan. 

Wawancara Khusus 3

Sabarno, Dodi alias Fiko dan Ustaz Hasan, Anggota Eks JI

BANGKAPOS.COM - Jamaah Islamiyah atau kelompok JI sudah membubarkan diri sejak 30 Juni 2024. Pernyataan bubar termuat dalam Deklarasi Sentul yang dibacakan Abu Ruysdan.

Bubarnya JI menuai beragam reaksi dan komentar. Tribun secara khusus mewawancarai tiga anggota eks JI. Dua eks napiter, Dodi alias Fiko dan Ustad Hasan. Satu lagi Sabarno alias Amali, DPO 10 tahun, yang akhirnya menyerahkan diri setelah mendengar JI bubar.

TRIBUN: JI menyatakan bubar atau membubarkan diri. Apa perasaannya begitu mendengar organisasi ini bubar atau membubarkan diri.

SABARNO: Bismillahirrahmanirrahim. Ya mungkin pada intinya kalu itu sudah jadi kesepakatan para qiyadah, tataran sesepuh JI, dan itu sudah jadi ijtihad, kita yang di tataran bawah mengikuti. Samina wa’atona. Karena prinsipnya kita dulu semangat beliau-beliau yang mengarahkan, sekarang kita bubar dan pakai ilmu, kita samina waatona.

TRIBUN: Terkejut nggak siih?

SABARNO: Di awal ketika berita sebelumnya sudah mendengar, sempat syok, semalaman tidak bisa tdur. Karena posisi saya sebagai DPO, 10 tahun lebih, pulang sebenarnya ingin pulang cari modal melanjutkan DPO-nya. Mendengar berita ini ya syok.

TRIBUN : Kalau Mas Dodi bagaimana?

DODI : Bismillahirrahmanirrahim. Kalau saya pribadi ya senang. Karena selama ini kita kucing-kucingan. Tapi ketika para senior dan sesepuh memilih ijtihad, saya ikut senang. Samina waatona. Itu sebetulnya sudah tidak begitu kaget, karena saya eks napiter. Ketika di dalam penjara sudah ada pembicaraan, kayaknya akan lebih maslahat jika membubarkan diri. Di dalam penjara ada sesepuh dan senior kasak-kusuk terkait pembubaran sejak tiga tahun lalu.

TRIBUN : Ustad Hasan bagaimana?

USTAD HASAN : Kalau kita dengan acara 30 Juni itu, karena saya pernah merasakan di dalam, saya satu sel dengan sesepuh, memang itu yang kita inginkan. Sejak di Polda sampai di Lapas, kita sering membicarakan dan menangisi perkara-perkara (JI) yang sisi syariinya masih diperbincangkan.

TRIBUN : Ada pro kontra tidak di dalam atau di internal jamaah?

USTAD HASAN : Pro kontra itu wajar. Yang kontra itu otomatis itu, satu, kurang membaca realita yang ada. Kedua, ilmu syariinya perlu belajar lagi.

TRIBUN : Pak Sabarno, Anda tadi mengatakan berstatus DPO. Sekarang udah nggak dikejar-kejar lagi kan?

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved