Jamaah Islamiyah Bubar
Wawancara Khusus: Cerita Abu Fatih di Balik Bubarnya Jamaah Islamiyah
Jamaah Islamiyah (JI) sudah membubarkan diri 30 Juni 2024 lewat Deklarasi Sentul. JI menyatakan islah dengan pemerintah dan aparat keamanan.
Wawancara Khusus (1)
USTAD ABU FATIH alias ABDULLAH ANSHARI, sesepuh dan eks Ketua Mantiqi II Jamaah Islamiyah (JI)
Jamaah Islamiyah (JI) sudah membubarkan diri 30 Juni 2024 lewat Deklarasi Sentul. Banyak yang masih terkejut dan ragu JI benar bubar atau pura-pura bubar, berganti kulit. Tribun mendapat
kesempatan eksklusif mewawancarai Ustad Abu Fatih alias Abdullah Anshori di sebuah tempat di dekat Kota Solo. Abu Fatih ini sesepuh, saksi mata kepemimpinan Abdullah Sungkar sebagai Amir JI. Dia pernah memimpin Mantiqi II Jamaah Islamiyah.
TRIBUN (T): Jamaah Islamiyah dalam Deklarasi Sentul 30 Juni 2024 menyatakan bubar atau
membubarkan diri. Ini JI bubar beneran atau ganti kulit saja dan tetap di jalan perjuangan semula ustad?
ABU FATIH (AF) : Yaaa..sebenarnya saya secara pribadi, itu sejak ustad Abdullah Sungkar wafat dan
posisinya sebagai Amir JI, saya merasa JI itu sudah tidak ada. Jadi JI itu istilahnya ada dan tiadanya
sama. Kalaupun kemudian muncul generasi penerus yang mencoba menjabarkan menjalankan
kegiatan dengan nyerempet JI, itu anak-anak muda. Karena Para Wijayanto tatkala saya sudah
berakhir (memimpin Mantiqi II) posisinya masih Sekretaris Wakalah Jateng. Sementara saya waktu
itu membawahi 9 wakalah.
Jadi kembali ke soal bubarnya JI ini, kalau tidak salah tahun 2021, ada petugas dari Densus, datang
ke rumah saya. Di antaranya Kombes Sodik, kemudian Pak AKBP Fino, Pak Wawan, dan temen-
teman lain. Yaa waktu itu mau mengambil saya. Saya sih pasrah saja. Apa yang diinginkan saya siap
kalau harus mempertanggungjawaban secara hukum adanya sesuatu.
Lalu beliau-beliau hanya meminta surat pernyataan bahwa saya sudah keluar dari JI. Saya jelaskan
waktu itu kalau saya sudah tidak aktif sejak Ustad Abdullah Sungkar wafat. Kalaupun ada sedikit itu
hanya proses aja. Kemudian saya tanya, kepada Pak Fino dan Pak Sodik, apa keluar dari JI artinya
saya keluar dari Islam atau murtad. Kemudian dijawab tidak ada hubungan dengan keimanan dan
keislaman seseorang.
Tetapi upaya mereka itu terkait dengan keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan bulan sekian
tahun sekian yang menetapkan JI adalah organisasi terlarang.
Nah, karena jawaban tidak menyangkut keimanan, saya merasa itu sesuatu yang menarik.
Selanjutnya kami banyak berdiskusi dengan Pak Fino dan Pak Wawan. Setelah itu, tatkala saya
sudah membuat surat pernyataan, saya kira sudah tidak ada masalah. Saya diminta tidak ke mana-
mana, tidak pergi jauh-jauh. Saya di rumah saja. Paling ke kebun, ke masjid.
Kemudian setelah diajak Mas Bambang (Ustad Bambang Sukirno) diskusi-diskusi, saya merasa tidak
cukup kalau kita hanya diam. Kemudian Pak Arif (Ustad Arif Siswanto), beliau bebas dan
memaparkan yang intinya JI itu perlu dibubarkan. Saya malah berpikir dan bicara waktu itu, Antum
(Ustad Siswanto) bubarkan saja, lalu kita bikin organisasi apa yang kita bisa duduk-duduk bareng,
ngaji bareng atau kenduri bareng…hehehehehe!
Lalu ternyata muncul masalah ketika ada orang K*r*m mendengar info ini, dan terjadi
kesalahpahaman, seolah-olah saya hendak membuat organisasi JI baru. Sehingga terjadi kehebohan
di dunia intelijen. Tapi alhamdulillah kemudian bisa diredam dan dijelaskan segala sesuatunya.
Bukan mau mendirikan JI baru, tapi organisasi terbuka yang menyelaraskan dengan perjalanan
pemerintah dan tuntutan negara. Tapi waktu itu kan kita belum bicara lebih jauh, konsepnya saja
belum disusun.
Kemudian muncul deklarasi Abu Rusydan yang menjelaskan begini-begini, yang poin 642 itu
(semacam risalah pendapat pandangan Abu Rusydan). Nah, saya lalu berpikir kalau begitu ini klir,
dari situ saja kita sosialisasikan dan ternyata memang sudah ada perintah sosialisasi. Saya
mendampingi setiap sosialisasi, sebagai orang yang dipandang tua, senior, walau sudah tidak aktif.
Saya mungkin masih dianggap tokoh yang memiliki ideoogis selaras. Maka saya perlu untuk
menunjukkan kepada ikhwan-ikhwan yang membubarkan diri, bahwa itu sikap yang benar. Karena
tidak mempertimbangkan, misalnya takut hukum, takut densus, tapi dengan kesadaran dengan
bimbingan ilmu, ternyata ruang secara syarii dan dien, ternyata tidak ada manfaatnya kalu
membangun konflik dengan pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia itu representasi kaum
muslimin, dan bangsa yang rakyatnya Islam juga.
Jadi membubarkan diri itu artinya mengislahkan diri. Banyak kalimat dalam Quran, mengatakan
kesepeakatan tersembunyi itu tidak akan membawa kebaikan, kecuali perintah kebaikan, perintah
sedekah, atau mengajak berislah. Maka apa yang dilakukan di Sentul itu khususnya islah,
mengishlahkan diri, dan betapapun sebagai bagian dari bangsa, kita mengislah diri. Baik mengingat
kesejarahan, peran ulama, pertimbangan revolusi dan proklamasi, perjalanan panjang kita
rekonstruksi, akhirnya sudahlah, Bismillah, tawakal kepada Allah, kita terima apa yang dikatakan
Ustad Abu Rusydan. Ini momentum yang sepertinya sama-sama dirindukan.
Sehingga tatkala kita sosialisasi mendampingi Ustad Bambang dan Ustad Arif Siswanto, sudah 15
kali, dan ternyata tidak ada yang menolak. Dulu ada yang lari-lari jauh (buron/DPO), setelah
mendengar ini berbondong-onodng datang.
T : JI menyatakan diri bubar dan ini menerbitkan pertanyaan kalau begitu JI memang benar-benar
ada selama ini. Sebab sebelumnya ada bantahan-bantahan organisasi ini tidak ada?
| Eks Anggota Jamaah Islamiyah Serahkan Senjata dan Bahan Peledak ke Densus 88 |
|
|---|
| Wawancara Eksklusif Bangka Pos dengan Ketua FKPP Terkait Bubarnya Jamaah Islamiyah Babel |
|
|---|
| Ini Alasan Jamaah Islamiyah Bangka Belitung Resmi Bubar |
|
|---|
| Jamaah Islamiyah Babel Deklarasikan Pembubaran, 30 Orang Baca Poin dan Ikrar Deklarasi |
|
|---|
| Ponpes Darusy Syahadah Berubah Setelah Kooperatif dengan Pemerintah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240722-Abu-Fatih-eks-tokoh-Jamaah-Islamiyah-atau-JI.jpg)