Lawatan Sejarah Siswa MAN 1
Siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Pangkalpinang melakukan lawatan sejarah selama hampir seminggu perjalanan
Oleh Masmuni Mahatma (Kakanwil Kemenag Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)
SISWA-siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Pangkalpinang melakukan lawatan sejarah selama hampir seminggu perjalanan (06-11/11/2024).
Lawatan ini dimulai dari Museum Fatahillah, Lubang Buaya, Candi Prambanan, Keraton Yogyakarta dan sharing akademik perspektif pelajar bersama siswa-siswi MAN 2 Yogyakarta.
Menurut penuturan salah satu guru sejarah MAN 1, lawatan kali ini sejatinya untuk melancipkan dan menambah “wawasan historik” siswa-siswi MAN 1 terkait keberadaan situs, benda, latar peristiwa, subyek, obyek dan lokasi bersejarah di belahan Nusantara, khususnya di sekitar Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Sehingga mereka tidak hanya mendengar dan membaca secara teoritik dari buku, catatan-catatan pinggir, atau pembelajaran guru di kelas.
Lawatan sejarah ini, disadari atau tidak, hendak mengonfirmasi, mencocokkan, dan menguatkan interaksi antara teori serta fakta kesejarahan. Siswa-siswi diajak untuk mencerna, melihat langsung, mengetahui, mengasah, menguji, dan memaknai apa dan bagaimana yang terjadi di balik fakta-fakta sejarah dimaksud.
Lubang Buaya, misalnya, dimana selama ini dikaitkan dengan pristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G 30 S PKI) seperti dalam film yang tiap tahun ditayangkan, ternyata masih cukup banyak mengundang pertanyaan dan juga “misteri.”
Sebagai ilustrasi dari dan untuk meneruskan gambaran terhadap generasi bangsa bahwa PKI tidak sejalan dan cenderung merongrong ideologi Pancasila, sesuatu yang boleh-boleh saja. Layak diapresiasi dan disyukuri. Sebuah kreasi dan prestasi.
Namun demikian, sebagai sejarah kelam dan memakan banyak korban baik dari kalangan sipil maupun militer, patut terus ditelusuri motif dan orientasi material maupun taktis serta strategisnya.
Sebab penumpasan terhadap petinggi tentara nasional dan tokoh-tokoh bangsa kala itu bukan semata kontradiksi dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Lebih dari itu, sangat mendistorsi kejuangan nasional, terutama bagi penataan sekaligus kelangsungan penguatan sosial kebangsaan dan sosial kenegaraan.
Tak berlebihan sekira ada persepsi atau anggapan jangan-jangan G 30 S PKI 1965 itu hanya “persekutuan” sebagian elit yang bernafsu menjadi penguasa negara? Atau, ada settingan luar negeri yang sulit dibendung karena Indonesia dipandang cukup strategis dalam lalu lintas politik dan ekonomi internasional.
Menghidupkan Sejarah
Sejarah itu, kata Hassan Hanafi (2015 : 74), adalah riwayat. Karena riwayat, ia membutuhkan perangkat dan uji kesahihan melalui berbagai teori dan metode yang dianggap absah. Sebagai riwayat, sejarah mesti obyektif mengutarakan dan memaparkan realitas historis dan a-historis.
Sehingga tidak mentunakan atau membuat masyarakat antipati atas kebenaran masa lalu dan kemaslahatan masa depan.
Dari alur ini, pikiran dan kesadaran kesejarahan akan mengalir sekaligus bertumbuh produktif-transformatif. Ini merupakan salah satu cara menghidupkan sejarah sebagai, meminjam istilah Hassan Hanafi (2015 : 77), manifestasi pikiran-idea berbasis spirit regeneratif.
Apalagi sejarah, lanjut Hassan Hanafi, bagian dari obyek. Adapun komplementasi obyek pada masa kini, urai Hanafi (2015 : 78), merupakan eksplorasi terhadap masa lalu.
Menghidupkan sejarah, adalah bagian dari menggerakkan kesadaran untuk menelaah ulang hal-hal heroik-prestatif, bukan semata mengingat kejadian-kejadian normatif. Sejarah itu mahal dan langka. Sulit berulang-ulang. Sekali ia datang, mesti disambut dan dimaknai semaksimal mungkin, baik dari aspek materialitas hingga substansialitas.
Terlebih manusia, kata Ahmad Mansur Suryanegara (1995 : 26), di muka bumi ini punya tugas untuk menciptakan perubahan, termasuk dalam konteks sejarah.
Sebab esensi sejarah, lanjut Ahmad Mansur Suryanegara, adalah perubahan. Menghidupkan sejarah, bukan semata menyalakan kesadaran, melainkan juga benar-benar memproduktifkan perubahan.
Lawatan sejarah siswa-siswi MAN I Pangkalpinang ini patut diapresiasi, diamplifikasi, dan diedukasi. Upaya ini merupakan bukti nyata bahwa pemikiran dan perspektif mereka mulai terbuka, bertumbuh, dan inovatif-eksploratif.
Mereka terus aktif mencerna dan mengunyah materi maupun hukum sejarah. Ini hal yang cukup membanggakan. Sebab mereka telah mengaktualisasikan dirinya secara kreatif dan produktif sebagai “aktor sejarah.”
Sehingga mereka, meminjam istilah Ahmad Mansur Suryanegara (1995 : 27), memiliki kesadaran historitas yang berkualitas. Mereka tidak akan mengambil dan menempatkan peristiwa secara fragmental, akan tetapi beranjak ke tahap integral-universal.
Mereka tidak mengunyah bahan mentah sejarah, tapi menginternalisasi hakikat dan esensi sejarah dengan optimal.
Apalagi sejarah, kata Anton Bakker (2018 : 4-5), memang menjadikan manusia sebagai obyek. Membicarakan sejarah tanpa manusia, berarti mendiskusikan “benda pasif” yang tidak akan menghangatkan apa-apa.
Meskipun di sisi lain, sejarah yang berada di tangan manusia, akan mengalami lompatan-lompatan tak terduga juga. Melalui pikiran dan ideanya, manusia tidak akan berhenti mengkomplementasi pelbagai peristiwa maupun spirit dan makna yang dikandung.
Dan sejarah, lanjut Anton Bakker, tidak hanya memberikan simple facts of the past, melainkan juga terus menerangkan kausalitas yang mengiringi.
Artinya, peristiwa historis, tidak cukup disuguhkan ke hadapan publik berupa teks, tetapi harus disambungkan serasional dan seobyektif mungkin dengan alur konteks dimana ia muncul.
Menguatkan Empati
Lawatan sejarah siswa-siswi MAN I Pangkalpinang ini sesungguhnya ikut menguatkan empati secara keilmuan dan praksis berkehidupan. Mendidik tidak semata mengutarakan atau membagikan teori dalam kelas, tetapi harus diinternalisasi melalui sikap dan aksiologi di lapangan yang amat luas.
Bahkan menuntun maupun mendidik generasi peka terhadap kejuangan dan keteladanan leluhurnya, adalah kesadaran sekaligus kehendak kolektif yang mengagumkan. Terlebih sejarah, meniru perspektif Kuntowijoyo (2013 : 3), bisa ditransformasikan melalui pendekatan etis dan estetis.
Tidak sekadar menggairahkan dan menancapkan rasa cinta dari dan untuk keringat perjuangan serta warisan historik leluhur, tetapi menyadarkan generasi bahwa mereka hidup bersama realitas sosio-kultur dan cita-cita mulia komunitas lain.
Empati kesejarahan ini harus diintegrasikan terhadap apa yang terjadi dan sejalan dengan pengetahuan manusia maupun di luar pengetahuan manusia. Yang pertama dikategorikan sejarah subyektif, dan yang kedua disebut sejarah obyektif.
Namun demikian, keduanya selalu menyuguhkan pengetahuan kongkrit dalam batas dan ruang aktualnya masing-masing. Sebab sejarah berbeda dengan mitologi.
Meski sejarah dan mitologi dipandang sama-sama menghadirkan “kisah,” “dongeng,” “cerita,” dan “peristiwa,” tetapi sejarah lebih memberikan kepastian mulai dari aspek teknis maupun substansialis.
Sejarah memiliki metode logis untuk pembuktian material dan esensial. Sementara mitos hanya berada pada “stimulus” agar kita dapat menyelami dan menginternalisasi makna yang hendak disentuhkan.
Empati lawatan sejarah kali ini dilengkapi sharing terbuka dan terarah oleh siswa-siswi MAN I Pangkalpinang bersama siswa-siswi MAN 2 Yogyakarta.
Dialektika historis mengalir indah. Siswa-siswi MAN I Pangkalpinang tidak hanya mencerna, meresapi dan mengambil nilai-nilai serta spirit kesejarahan Candi Prambanan maupun Keraton dari siswa-siswi MAN 2 Yogyakarta.
Sebaliknya, mereka pun menyuguhkan lanskap Bangka Belitung yang memiliki khazanah kesejarahan tak kalah unik-heroiknya.
Mereka jelaskan keberadaan prasasti Kota Kapur di Kabupaten Bangka dan Bukit Menumbing di Kabupaten Bangka Barat yang menjadi tempat pengasingan Bung Karno, Agus Salim dan tokoh lain. Ini laku menguatkan empati historis yang layak diapresiasi.
Di luar pemaparan akan situs atau prasasti kuno tersebut, siswa-siswi MAN I Kota Pangkalpinang bersemangat mengenalkan “batu-batu puitis” di hamparan Laut Pulau Belitung, tempat Laskar Pelangi dikreasi dan diletupkan. Ini bentuk empati siswa-siswi yang visible dan prospektus.
Tidak sekadar datang dari jauh untuk bertamu menimba ilmu, melainkan hadir tulus berbagi kesejarahan dengan semangat etik dan estetikanya sendiri. Mereka seakan telah bersiap untuk menjadi bagian dari gerak sejarah kontemporer bersama geliat digitalisasi yang semakin deras.
Atau, menjiplak istilah kritis Murtadha Muthahhari (1995 : 65), siswa-siswi lincah ini ingin menegaskan bahwa sejarah bukan pengetahuan terkait “menjadi peristiwa” belaka, melainkan pengetahuan tentang “maujud” yang kaya cipta dan karya demi keutuhan semesta. (*/E1)
| Meski Mahal Warga Pilih Sapi Limosin Karena Lebih Menguntungkan |
|
|---|
| Menteri Hukum RI Launching 393 Posbankum di Babel, Beri Penghargaan Kepala Daerah |
|
|---|
| Jemaah Haji Babel Dalam Kondisi Baik, Bersiap Hadapi Puncak Haji di Armuzna |
|
|---|
| Soal Plasma dan TBS, Warga 8 Desa Mengadu ke DPRD Babel |
|
|---|
| DPW PPP Babel Ajak Masyarakat Panjatkan Doakan Suami Wagub Babel Hellyana Semoga Husnul Khatimah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240804_Masmuni-Mahatma.jpg)