Opini
HUT ke-24 Babel dan Pilkada Serentak: Pemilih Emosional, Transaksional, atau Rasional?
Pemilih emosional sering kali terpengaruh oleh beberapa hal yakni kedekatan Etnis atau Agama. Pemilih jenis ini cenderung mendukung kandidat yang ...
Oleh: Eddy Supriadi S.Pd. M.Pd, - Akademisi Universitas Pertiba
PROVINSI Kepulauan Bangka Belitung (Babel) akan merayakan ulang tahunnya yang ke-24 di tengah persiapan pesta demokrasi Pilkada Serentak 2024.
Momen ini menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan perjalanan demokrasi lokal serta pola perilaku pemilih yang menentukan arah pembangunan daerah ke depan.
Pertanyaan utama yang muncul adalah: Apakah masyarakat Babel lebih banyak memilih berdasarkan emosi, transaksi, atau pertimbangan rasional?
Refleksi 24 Tahun Babel
Dalam dua dekade lebih keberadaannya, Babel telah berkembang pesat dari segi infrastruktur, ekonomi, dan pendidikan.
Namun, kualitas demokrasi di provinsi ini masih menghadapi tantangan, terutama dalam konteks Pilkada.
Berbagai elemen seperti politik uang, isu primordial, dan minimnya pemahaman terhadap visi-misi kandidat kerap menjadi hambatan menuju pemilihan yang ideal.
Pemilih Emosional
Pemilih emosional sering kali terpengaruh oleh beberapa hal yakni kedekatan Etnis atau Agama.
Pemilih jenis ini cenderung mendukung kandidat yang memiliki kesamaan identitas, tanpa memeriksa kemampuan atau program kerja mereka.
Kemudian pemilih yang melihat Karisma Kandidat. Figur yang populer atau dianggap "dekat dengan rakyat" sering mendapatkan dukungan meskipun kurang memiliki rekam jejak yang memadai.
Lalu pemilih yang menggunakan Narasi Sentimen Lokal. Isu-isu yang membangkitkan rasa bangga atau takut sering digunakan untuk memanipulasi emosi pemilih.
Pemilih emosional ini, meskipun menjadi bagian wajar dari demokrasi, rentan terhadap manipulasi politik jika tidak didampingi informasi yang cukup.
Pemilih Transaksional
| Dialektika Hukum dan Keadilan dalam Praktik Penegakan Hukum |
|
|---|
| Dunia Anak Tidak Sesederhana yang Kita Bayangkan: Belajar dari Film Na Willa |
|
|---|
| Waspada Lonjakan Kasus Campak di Indonesia: Alarm Kesehatan di Tengah Rendahnya Cakupan Imunisasi |
|
|---|
| Mengapa Organisasi Global Harus Berhenti Bergantung pada Pendekatan Satu Ukuran untuk Semua |
|
|---|
| Inklusi di Dunia Kerja Global: Antara Retorika dan Realitas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20241121-Eddy-Supriadi-SPd-MPd-Akademisi-Universitas-Pertiba.jpg)