Opini

Makhluk yang Terdidik

semasa proses dalam rahim seorang ibu pun tiap manusia dilateni dengan kualitas nilai-nilai pendidikan. Walau pun hanya melalui “bisikan”....

ISTIMEWA
Masmuni Mahatma - Kakanwil Kemenag Bangka Belitung 

Oleh: Masmuni Mahatma, Kakanwil Kemenag Propinsi Kep, Babel   

SEJATINYA manusia adalah makhluk Tuhan yang terdidik. Sentuhan dan transformasi nilai pendidikan bagi manusia dimulai sedari awal penciptaan. Dari perspektif yang lebih filosofis, semasa proses dalam rahim seorang ibu pun tiap manusia dilateni dengan kualitas nilai-nilai pendidikan. Walau pun hanya melalui “bisikan” dan “doa” masing-masing orang tua atau kerabat mereka. Tak berlebihan manakala sebagian filosof eksistensialis mensinyalir bahwa makhluk Tuhan yang mengenyam dan sangat berperadaban ialah manusia. Dan manusia yang berperadaban, kata Muthahhari (1996 : 37), tidak pernah merasa ragu kalau dirinya memang memerlukan pendidikan, seperti halnya ciptaan lain yang butuh pemeliharaan.

Manusia, lanjut Muthahhari, merupakan jenis makhluk Tuhan yang maujud. Memiliki kelebihan kebebasan dibandingkan makhluk-makhluk lain. Tak jarang juga kemauan manusia sedemikian banyak, melebihi target hidupnya sendiri. Wajar kalau ada manusia-manusia kelebihan keinginan, sering kali tidak fokus lagi terhadap tugas utama sebagai hamba dan khalifahNya. Sebab kapasitas dan kualitas mereka belum maksimal. Mereka seakan hanya hadir di atas tanah, bermain-main, rekreasi, tamasya, traveling, dan beraktifitas apa adanya. Namun sering kali abai atas misi luhurnya selaku abdi Tuhan yang sama sekali tidak memiliki daya selain kepasrahan dan kecintaan dengan pelbagai keterbatasan. Dari sini tak sedikit manusia mulai disorientatif.

Bila manusia mulai kehilangan arah dan misi utamanya, ia akan mudah terseret arus dan gelombang godaan hal-hal yang kontradiktif dari dan untuk kehambaan. Ia akan mendistorsi keluhuran penciptaan dan penugasan Tuhan. Mungkin termasuk cepat congkak, membiasakan sombong, dan mengentalkan interaksi egoistiknya. Bisa juga cepat terjebak dalam tarikan hidup berpoles kepura-puraan. Ibadah wajib dan sunnah pun dianggap sebagai lintasan meraup keuntungan parsialistik-materialistik, bukan diinternalisasi demi konsolidasi dan integrasi imani. Bahwa ia adalah bagian dari makhluk yang terdidik, tampak tidak begitu diindahkan lagi. Ia teramat asyik dengan formalitas tanpa esensi dan pencitraan diri yang keropos. 

Nasihati Diri

Sebagai makhluk terdidik, manusia seyogiyanya terus menerus nasihati diri sendiri sebelum jauh terlibat dan mencicipi lonjakan hidup yang sedemikian dinamis dan pragmatis. Bercermin pada kapasitas dan keterbatasan diri sendiri, insya Allah dapat menuntun tiap manusia untuk teguh-utuh berada dalam bingkai kehambaan sekaligus kekhalifahan. Kembali pada kodrat kemakhlukan yang dilekati kelemahan, kekurangan, dan kealpaan, manusia akan cukup nyaman memompa dan mengolah diri di ruang-ruang kesederhanaan berbasis kerendahan hati. Mustahil tiba-tiba hipokrit dan paradoks. Mereka tidak cepat lupa akan hakikat diri dan muasal fitratinya. 

Di sisi lain, mereka akan membawakan diri dan hidup sosialnya seturut tugas serta misi utama, yakni selaku hamba sekaligus khalifahNya. Dengan rajin menasihati diri sendiri, tiap-tiap manusia, meminjam ajaran Raja Ali Haji (2000 : 2), tidak akan gampang terperdaya, tertipu, terhasut atau menenggelamkan dirinya diantara hiruk-pikuk duniawi. Mereka juga akan sangat peka terhadap hal-hal yang hendak melahirkan banyak kontradiksi dan kebatilan. Dari sini manusia akan terbiasa mengenali pelbagai sesuatu yang esensialistik dan tanpa ragu menyisihkan apa yang tak lebih sekadar lipstik. “Barang siapa mengenal dunia, kata Raja Ali Haji, tahulah ia barang yang terperdaya. Barang siapa yang mengenal akhirat, lanjutnya, tahulah ia dunia mudharat.”

Cukup terang bahwa menasihati diri sendiri, merupakan upaya dan langkah produktif menata eksistensi kehambaan dan kekhalifahan. Sehingga tiap diri perlahan tapi pasti mampu menghindar dari hal-hal yang sia-sia dalam kehidupan. Dan sebagai makhluk terdidik, sepantasnya manusia tiada henti menghitung detak jantung dan denyut nadi dirinya. Ia mesti menjadikan bisikan nurani yang dimiliki sebagai penasihat andalannya. Sebab jika manusia tidak memiliki penasihat lagi dalam dirinya, tegas Muthahhari (1996 : 39), maka berapa pun nasihat yang dialirkan orang lain, termasuk mereka yang dikategorikan arif sekalipun, tetap tidak akan mendatangkan manfaat bagi dirinya. Ini cukup riskan, mengkhawatirkan, dan memprihatinkan. 

Nasihati diri sendiri, apapun bentuk dan konteksnya, merupakan perbuatan positif, konstruktif, dan produktif. Melalui perilaku menasihati diri sebelum dihadapkan pada nasihat orang lain, diakui atau tidak, setiap manusia akan mampu mengantar dan mengawal dirinya secara etik dan obyektif. Tak berlebihan kalau Imam Ali a.s., menegaskan hendaknya tiap diri menghitung lebih cermat sebelum dihitung-hitung oleh orang lain. Ini bukan sekadar siraman etik untuk menguatkan nilai-nilai kedirian. Jauh di balik itu, sesungguhnya merupakan bagian dari akhlak atau karakter kehambaan maupun kekhalifahan yang layak diinternalisasi. Bahkan sebagian filosof pun telah menegaskan, “lihat dirimu sendiri lebih mendalam, kau akan tahu rahasia kehidupan.”

Persona Terdidik

Manusia, lagi-lagi mengutarakan pandangan Muthahhari (1996 : 37) adalah persona (makhluk) terdidik. Allah SWT sedari awal sangat memberikan ruang, kesempatan, dan potensi kepada manusia untuk mendidik dirinya sendiri. Dengan apa? Jelas melalui akal (pikiran) yang dianugerahkan secara istimewa. Sebagaimana juga diutarakan Ibnu Miskawaih (1998 : 41), bahwa keistimewaan dan kebaikan manusia itu terletak pada kualitas berpikirnya. Bahkan manusia yang paling baik, lanjut Ibnu Miskawaih, adalah mereka yang paling mampu melakukan tindakan yang tepat buat dirinya, yang senantiasa memperhatikan tahapan maupun syarat substansialnya, dan terus kreatif membedakan dirinya dari seluruh benda alam yang ada.

Dalam bahasa Driyarkara, manusia merupakan makhluk yang terus berproses, tiada henti untuk menjadi, mempunyai kehendak mengenali dan menggali keberadaan dirinya. Bahkan ia tetap keramat bagi dirinya sendirinya (1978 : 86). Perspektif ini pula yang memposisikan manusia sebagai persona terdidik, pribadi aktual, dan individu yang kreatif-estetik. Sangat berbeda dengan kebanyakan makhluk Tuhan yang lain. Ketika kualitas pikiran manusia melejit dan lebih kental dalam dirinya, ia akan terbang tinggi disertai derajat sangat luhur. Sebaliknya, manakala kualitas pikiran manusia berada pada titik terendah dan tidak memberikan sentuhan atau efek positif, banyak manusia mengalami kejatuhan dan kerugian. Termasuk ada yang (ter)hina(kan). 

Dalam rangka terus menjaga kestabilan dan berada pada derajat luhur, manusia mesti menciptakan dan membawakan kebaikan-kebaikan terhadap sesama. Sedini mungkin menghitung jejak diri berdasarkan takaran esensi atau substansi humanitarianistiknya. Tidak boleh menggeser pikiran yang dimiliki ke lahan-lahan sosial yang kontraproduktif. Menjauhkan diri dari godaan-godaan materialitas yang sangat ambigu dan paradoks. Tidak boleh juga melibatkan diri dan pikiran pada hal-hal yang sama sekali tidak mengandung kebajikan. Pekerjaan atau perbuatan yang kurang baik dapat segera dielakkan. Keinginan buruk, negatif, dan manipulatif pun wajib disingkirkan mulai dalam pikiran apalagi tindakan.

Agar mampu memelihara diri sebagai persona (makhluk) yang terdidik, siapa saja diantara manusia di muka bumi, meminjam ajaran Raja Ali Haji (2000: 14 dan 16), hendaklah berjasa/kepada yang sebangsa//hendaklah jadi kepala/buang perangai yang cela//hendaklah memegang amanat/buanglah khianat//. Tidak hanya itu, Raja Ali Haji lanjut berpesan, agar tiap diri istiqomah sebagai persona terdidik pembawa ilmu dan kebaikan, mereka harus diingatkan dirinya akan mati. Sehingga tidak punya ruang, kesempatan, dan perilaku selain benar-benar untuk berbakti. Sebab akhirat, kata Raja Ali Haji, tampak terlalu nyata. Terutama kepada mereka yang memiliki hati yang tidak buta. Mereka pasti selalu menghitung diri dan waspada. Itulah potret makhluk terdidik yang pantas menyandang predikat hamba dan khalifahNya. (*/E1)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved