Tribunners
Model Kerja Sama PT Timah Tbk di Era Disrupsi Teknologi
Disrupsi teknologi adalah perubahan besar yang terjadi akibat teknologi baru menggantikan cara lama dalam melakukan sesuatu.
Tanpa adanya transfer teknologi dan penguatan kapasitas digital, kerja sama antara PT Timah Tbk tersebut hanya perpanjangan model bisnis lama, di mana perusahaan tetap menjadi aktor utama, sementara Bumdes dan masyarakat lokal “dibiarkan” beroperasi tanpa berkesempatan mengembangkan diri.
Mengapa Kerjasama Model Lama Harus Berubah
Dalam situasi saat ini, bukan kah PT Timah Tbk telah merasakan pentingnya menjaga reputasi sebagai perusahaan yang bertanggung jawab sosial yang sulit diraih dalam skema kerja sama model lama.
Perusahaan yang bertanggung jawab sosial menurut ISO 26000 adalah perusahaan yang bertanggung jawab terhadap dampak dari keputusan dan kegiatannya terhadap masyarakat dan lingkungan, melalui perilaku yang transparan dan etis bukan sekedar perusahaan yang hadir membawa hewan qurban setiap tahun seperti yang dikeluhkan Masyarakat di Desa Burong Mandi.
Jika PT Timah Tbk ingin membangun kembali kepercayaan Masyarakat dan tidak ingin terpinggirkan seperti ojek pangkalan, maka keterlibatan BUMDes seharusnya lebih dari sekadar strategi bisnis, namun mencerminkan komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Beberapa dampak negatif lain yang akan hadir Kembali tanpa mengubah model kerja sama adalah:
- Tidak kompetitif: Saat industri tambang semakin mengadopsi otomatisasi dan AI, BUMDes tetap tertinggal karena tidak memiliki kapasitas teknologi yang cukup.
- Ketergantungan pada Perusahaan: Jika peran BUMDes tidak diperluas ke aspek inovatif, maka Bumdes akan selalu bergantung pada korporasi dan sulit berkembang secara mandiri.
- Dampak Lingkungan dan Sosial: Tanpa sistem pemantauan berbasis teknologi, potensi dampak negatif terhadap lingkungan dan transparansi keuangan akan Kembali menjadi masalah.
Kesimpulan
Kerjasama PT Timah dengan BUMDes merupakan langkah positif untuk melibatkan masyarakat dalam aktivitas ekonomi, namun jika tanpa inovasi berbasis teknologi, maka kerja sama tersebut hanya model bisnis lama dengan wajah baru.
Agar tidak hanya menjadi operator tambang, BUMDes harus diberikan akses ke teknologi dan peluang untuk berkembang secara mandiri. Inilah esensi dari CSR yang benar-benar berkelanjutan di era disrupsi teknologi. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250307_Suryana-Miharja.jpg)