Opini
Mudik Religius
Mudik merupakan dambaan masyarakat Indonesia hampir tiap tahun. Hanya untuk mudik, sebagian besar masyarakat rela menyiapkan pembekalan lahir
Siapa dan dimana pun yang melakukan mudik akan lebih etik, artistik, dan estetik. Mudik ditancapkan sebagai jembatan penyambung energi pematangan rohaniah, religiusitas, dan spiritualitas, bukan hanya momentum tahunan untuk berliburan. Itulah potret mudik imaniyah berhias nilai-nilai keberagamaan dan berlapis esensialitas ketuhanan.
Ini mudik religius, yakni tidak dilekatkan sebagai ritualitas sosial belaka, melainkan sungguh dikonstruksi layaknya siklus perjumpaan rohaniah, perekatan emosionalitas, dan cahaya ukhuwah insaniyah, ukhuwah basyariyah, dan ukhuwah wathaniyah.
Memompa Ketakwaan
Disadari atau tidak, mudik sejatinya juga memompa ketakwaan. Bukan semata menyangkut vertikalitas-imaniyah, melainkan dalam konteks horizontalitas-insaniyah. Ia tidak sekadar menyegarkan relasi tiap diri dengan Tuhan, hablu min Allah, tetapi juga menyuburkan pertumbuhan interkoneksi dan harmoni diantara sesama, hablu min al-Nas.
Barangkali ini yang dimaksud konstruksi relasional sosio-humanistik universal, jejak nyata spiritualitas praksis dalam berkehambaan sekaligus berkemanusiaan.
Jejak religius yang benar-benar meneladani keluhuran pola pikir, mentalitas, maupun sikap sosial kehidupan Kanjeng Nabi Muhammad di hadapan manusia. Sehingga pantas kalau Alquran sampai menobatkan Rasulullah Saw selaiknya pemilik budi pekerti, akhlak, dan moralitas yang agung nan bersahaja (QS. Al-Qalam : 4).
Dalam rangka memompa ketakwaan, mudik mesti dijadikan sebagai media silaturrahim religius yang melahirkan dan mentransformasikan kebaikan-kebaikan ilahiah.
Apalagi bagi masyarakat Jawa, Madura, dan (mungkin) juga Melayu, yang secara naluri sosialnya memang cenderung religius (Asti Musman, 2024 : 1 dan 5), rasanya spirit mudik perspektif religius ini bukan hambatan. Bisa jadi tanpa disadari telah memiliki alur kesenyawaan yang kalau diasah akan cepat terintegrasi dan terinternalisasi. Ibarat ruh ketemu jasad atau jiwa berpadu dengan tubuh.
Artinya, mudik religius patut dioptimalisasi sebagai jalur konstruksi pemompaan nilai-nilai maupun komitmen luhur ketakwaan. Minimal demi saling alirkan kebajikan atasnama sesama makhluk Tuhan, saling memaafkan, menipiskan egoisme, saling melengkapi hak dan kewajiban adamiyah maupun kematangan ubudiyah.
Sebagaimana telah ditegaskan Allah SWT dalam Alquran, bahwa bagian dari tugas luhur manusia selaku hamba sejatinya ialah terus menerus untuk bersedekah, menyerukan dan berbuat kebajikan, memaksimalkan fungsi kekhalifahan serta mendamaikan manusia sekira diantara mereka sedang mengalami hal yang kurang harmoni (QS. Al-Nisa : 114).
Terlebih lagi perilaku mendamaikan itu sangat baik, produktif, dan telah sejalan dengan napas etik-humanistik. Secara obyektif, sulit untuk disangkal. Begitu esensialistik. Ini merupakan wujud moralitas humanistik yang sangat potensial, juga aktualisasi keteladanan berbasis spiritual yang aktual.
Bahkan Alquran pun sedemikian lama telah mengajarkan agar kita saling berlomba dalam membumikan kebaikan maupun ketakwaan (QS. Al-Maidah : 2). Instruksi Tuhan yang lugas, sama sekali tidak etis kalau diabaikan.
Cukup terang bahwa mudik religius merupakan keniscayaan. Ia bukan sekadar pesta hari rayaan, bukan pula pergeseran hari kerja ke masa liburan belaka. Memaknai mudik mesti berangkat dari kesadaran imani, sehingga ketersambungan silaturrahim antar sanak keluarga semakin berisi dan berkah.
Menginternalisasi mudik pun tidak boleh semata untuk berangkulan secara parsialistik, hal ini hanya akan mendistorsi kasih Tuhan dalam kelangsungan kesemestaan secara temporalistik.
Agar menjadi mudik religius seutuhnya, maka jalani dan warnai mudik ini sebagaimana ksatria medan perang menyambut Hari Kemenangan, hari kelapangan, hari kelegaan, hari kebahagiaan, hari suka ria, hari luapan kerinduan batini-imani demi transformasi humanitas, kolektifitas, dan pencerahan teologis maupun sosiologis keberhambaan.*
| Menuju Kedaulatan Energi: Siapa Memimpin, Siapa Menonton? |
|
|---|
| Klausula Choice of Law: Antara Kepastian Hukum dan Potensi Ketidakadilan dalam Kontrak Internasional |
|
|---|
| Indonesia Dalam Priority Watch List: Peringatan Serius Bagi Perlindungan Haki |
|
|---|
| Tambang llegal, Alam Hancur, Negara Absen |
|
|---|
| Penegakan Hukum di Balik Kilau Timah di Bangka Belitung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220904_Masmuni-Mahatma-Wakil-Rektor-IAIN-SAS.jpg)