Tribunners
Peh Cun Simbol Harmoni Budaya Menghidupkan Daya Tarik Wisata Pesisir Bangka
Di Pulau Bangka, Peh Cun menjelma menjadi perayaan yang sarat simbol sehingga tradisi ini terus dilaksanakan.
Oleh: Muhammad Isnaini
(Pemerhati Wisata dan Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Fatah Palembang)
Di tepi pantai Pulau Bangka, deburan ombak yang menghantam pasir sering kali berpadu dengan lantunan doa dan irama genderang.
Setiap tahun, tepat pada tanggal 5 bulan 5 kalender Imlek—yang pada tahun 2025 jatuh pada Sabtu, 31 Mei—komunitas Tionghoa di Bangka merayakan tradisi kuno bernama Peh Cun, sebuah warisan yang telah lestari dari generasi ke generasi.
Perayaan ini bukan sekadar ritual tahunan biasa, melainkan ungkapan penghormatan yang dalam terhadap sejarah, leluhur, dan keseimbangan alam.
Peh Cun tumbuh dari kisah tragis Qu Yuan, seorang negarawan Dinasti Chu yang hidup lebih dari dua ribu tahun lalu.
Dalam sejarahnya, Qu Yuan dikenal sebagai sosok yang setia, jujur, dan mencintai negaranya dengan sepenuh jiwa. Namun, kesetiaannya tak dihargai oleh para penguasa yang korup.
Dalam keputusasaan, Qu Yuan memilih mengakhiri hidupnya dengan terjun ke Sungai Miluo. Rakyat yang mencintainya pun berduka.
Mereka beramai-ramai menyusuri sungai, membawa perahu, memukul air dengan dayung, dan melemparkan kue beras—agar ikan tak menyentuh tubuh sang patriot.
Dari cinta rakyat kepada pemimpinnya, lahirlah sebuah tradisi yang hari ini masih terus dirayakan, bahkan di tanah seberang seperti Bangka.
Di tanah ini, Peh Cun menjelma menjadi perayaan yang sarat simbol. Kue beras yang dikenal dengan nama Nyuk Cun atau Chang dibentuk dan dikukus dalam balutan daun, lalu dilemparkan ke laut secara simbolis.
Masyarakat percaya, ritual ini adalah bentuk penghormatan kepada Qu Yuan sekaligus ungkapan syukur dan harapan kepada lautan yang memberi kehidupan.
Tindakan sederhana itu—melempar kue ke laut—mengandung makna yang jauh lebih dalam. Ia adalah doa dalam diam, persembahan kepada leluhur, dan pengingat akan pentingnya ketulusan dan pengorbanan.
Di tengah terik matahari, masyarakat Tionghoa Bangka juga melakukan ritual mandi laut bersama.
Bagi sebagian orang, ini mungkin tampak seperti tradisi biasa. Namun bagi mereka yang memahami nilai budaya, mandi laut dalam momen Peh Cun bukan sekadar membasuh tubuh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250531-Muhammad-Isnaini-Dekan-di-UIN-Raden-Fatah.jpg)