Opini
Teknologi dan Pendidikan: Sinergi dalam Konteks Pendidikan Pesantren
Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia memiliki karakteristik epistemologis dan pedagogis yang khas
Tantangan ketiga bersifat lebih mendasar, yaitu terkait dengan nilai dan budaya pesantren itu sendiri, termasuk kebijakan mengenai penggunaan gawai, pemisahan akses teknologi antara santri putra dan putri, serta kekhawatiran terhadap dampak teknologi digital terhadap kedisiplinan dan kehidupan asrama.
Tantangan keempat, yang bersifat etis dan pedagogis, adalah perlunya kurikulum literasi digital yang tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis penggunaan teknologi, tetapi juga membangun kesadaran kritis santri terhadap risiko-risiko penggunaan teknologi. Termasuk isu keaslian karya, ketergantungan pada alat bantu kecerdasan buatan dalam menyelesaikan tugas, serta dampak media sosial terhadap pembentukan karakter.
Dalam tradisi pesantren yang menekankan nilai adab dan kehati-hatian (tawadhu' dan ihtiyath), penanaman kesadaran kritis semacam ini menjadi sangat relevan dan dapat menjadi kekuatan pesantren dalam merespons tantangan era digital.
Sebagai penutup, hubungan antara teknologi dan pendidikan dalam konteks pesantren sebaiknya dipahami sebagai relasi yang bersifat saling melengkapi dan kontekstual, bukan relasi yang bersifat substitutif. Teknologi memiliki potensi besar untuk memperluas akses, meningkatkan efisiensi, dan memperkaya metode pembelajaran.
Namun keberhasilan integrasinya sangat bergantung pada bagaimana lembaga pendidikan dalam hal ini pesantren mampu menempatkan teknologi sebagai instrumen yang melayani tujuan pendidikan, sekaligus menjaga nilai-nilai fundamental yang menjadi identitas dan kekuatan tradisi keilmuan pesantren.
Pendekatan yang gradual, kontekstual, dan reflektif menjadi kunci agar inovasi teknologi benar-benar memperkuat, bukan mengikis, esensi pendidikan pesantren itu sendiri. (*)
| Sawit Indonesia di Persimpangan, Antara Kepentingan Global Dan Nasib Petani Kecil |
|
|---|
| Belanja Dulu, Bayar Nanti: Tren Paylater di Kalangan Mahasiswa |
|
|---|
| Refleksi Ekonomi Bangka Belitung 2026: Inflasi Stabil, Fondasi Masih Rapuh |
|
|---|
| Dialektika Hukum dan Keadilan dalam Praktik Penegakan Hukum |
|
|---|
| Dunia Anak Tidak Sesederhana yang Kita Bayangkan: Belajar dari Film Na Willa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Muslim-mahasiswa-S2-UNS.jpg)