Tribunners
Melampaui Reformasi Pendidikan
Tanpa literasi yang kuat, deep learning hanya akan menjadi slogan di atas kertas.
Kedua adalah perbaikan kualitas literasi. Skor Programme for International Student Assessment (PISA) kita masih seperti pasien yang butuh perawatan intensif. Minat baca kita masih kalah oleh gempuran video pendek. Anak-anak kita cerdas, tetapi mereka mudah lelah membaca teks panjang. Mereka ingin segala sesuatu serba cepat.
Deep learning adalah jawaban yang potensial. Namun, pendekatan ini tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan gerakan literasi yang masif. Bukan sekadar tugas membaca buku lalu merangkum isinya dalam selembar kertas, tetapi juga menciptakan ekosistem di mana buku adalah benda yang dirindukan. Di mana diskusi adalah kebiasaan. Di mana kemampuan berpikir kritis diasah setiap hari. Tanpa literasi yang kuat, deep learning hanya akan menjadi slogan di atas kertas.
Ketiga adalah upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah dan mendukung perkembangan anak. Sekolah harus menjadi taman, kata Ki Hajar Dewantara. Namun, taman kita masih menyisakan duri. Perundungan masih terjadi. Kekerasan di satuan pendidikan masih sering viral di media sosial.
Masa depan anak-anak kita tidak hanya ditentukan oleh nilai matematika. Masa depan anak juga ditentukan oleh seberapa aman mereka melangkahkan kaki ke sekolah. Seberapa dihargai mereka oleh guru dan sesama teman.
Pada akhirnya, kita patut memberikan salut pada pemerintah khususnya Kemendikdasmen. Pemerintah telah mematahkan tradisi gonta-ganti kurikulum. Mereka menyuguhkan gebrakan yang elegan. Serapan anggaran yang akuntabel dan kesejahteraan guru yang mulai kokoh.
Namun, kita belum sampai di garis finis. Perjalanan belum berakhir. Melampaui reformasi pendidikan berarti menolak untuk cepat berpuas diri. Melampaui reformasi adalah tentang menyelesaikan pekerjaan rumah yang lebih sunyi seperti pemberian perasaan aman, peningkatan kecerdasan literasi, dan penumbuhan kemanusiaan di sekolah.
Di sanalah hakikat pendidikan yang sesungguhnya hadir. Bukan terletak pada papan nama kurikulum baru, melainkan pada wajah-wajah bahagia di ruang kelas. Pada guru yang mengajar dengan tenang dan pada murid yang belajar dengan merdeka. Begitulah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240720_Al-Iklas-Kurnia-Salam-Peminat-Kegiatan-Literasi.jpg)