Kamis, 28 Mei 2026

Tribunners

Refleksi Teologis-Pedagogis Manasik Haji Kelas Tinggi

Kita tidak lagi bisa bertahan dengan metode mengajar yang konvensional, dingin, dan berjarak.

Tayang:
Editor: suhendri
Istimewa/Dok. Tuti Erawati
Tuti Erawati, S.Pd.I. - Ketua KKG PAI Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur  

Stasiun 2, tawaf sebagai restorasi kesabaran dan keteraturan 

Tatkala murid-murid kita sedang berbaris mengelilingi replika Ka'bah ditutupi kain hitam kita buat dari meja belajar murid, bersama melantunkan kalimat talbiyah (Labbaykallahumma labbayk...). Di sini, murid-murid dilatih berjalan dalam kecepatan yang konstan, tidak boleh saling mendahului, tidak boleh menyikut dan harus menjaga jarak aman.

Ini adalah obat penawar bagi penyakit short attention span (rentang perhatian pendek) dan kenakalan murid zaman sekarang yang terbiasa serba instan. Tawaf mengajarkan bahwa untuk mencapai tujuan suci, ada proses berputar yang harus dilalui dengan sabar dan tertib. Setiap putaran adalah simbol konsistensi ibadah (istikamah) di tengah badai distraksi duniawi.

Stasiun 3, sai sebagai membangun resiliensi dan daya juang

Berjalan dan berlari kecil di antara bukit Safa dan Marwa (yang disimbolkan dengan dua batas lakban di ujung-ujung ruangan) membawa ingatan murid pada fragmen perjuangan Siti Hajar. Seorang ibu yang pantang menyerah mencari air demi bayinya, Ismail, di tengah padang pasir yang membakar.

Guru merajut kisah klasik ini dengan realitas kontemporer murid: "Siti Hajar tidak pernah mengeluh dan terus berikhtiar hingga mukjizat zamzam itu keluar. Lalu, mengapa kita begitu mudah menyerah saat menghadapi kesulitan belajar? Nah, sekarang mengapa kita sering  mudah dan cepat mengeluh, atau marah-marah dan berputus asa ketika kuota kita habis atau kalah dalam permainan digital kita?"

Pelajaran kisah sai ini, kita mengajak murid-murid kelas tinggi ini membangun daya juangnya (resiliensi) agar merka tidak menjadi "generasi stroberi" maksudnya adalah eksotis di luar, namun lembek dan mudah hancur di dalam saat menerima tekanan.

Stasiun 4, melontar jumrah  sebagai menjinakkan "setan digital"

Rangkaian tahapan ini merupakan puncak dari modifikasi perilaku dalam metode role-play ini. Jumrah secara teologis adalah simbol perlawanan manusia terhadap godaan setan. Untuk murid kelas tinggi, musuh nyata mereka hari ini sering kali mewujud dalam bentuk adiksi layar gawai.

Guru dapat memodifikasi pilar jumrah menggunakan kardus bekas yang ditempeli tulisan-tulisan konkret. Misalnya malas salat karena lagi game, sering berkata kasar di medsos, sering bohong pada orang tua dan egois.

Sebelum melontar, kegiatan dibuat sangat kontemplatif. Murid-murid diminta menuliskan satu kebiasaan buruk digital mereka di selembar kertas kecil, meremasnya menjadi bulatan dan kertas itulah yang dijadikan "kerikil" jumrah.

Saat murid melemparkan kertas tadi ke arah kardus sebagai target sembari mengumandangkan takbir. Maka murid sedang melakukan eksternalisasi konflik dan membuat komitmen psikologis yang kuat untuk membuang perilaku destruktif tersebut dari dalam diri mereka.

Pada rangkaian wukuf sebagai air mata tobat 

Tahapan ini kita kondisikan ruangan yang bisa ditutup.  Agar sesi wukuf ini berada di sudut ruangan yang lebih redup pencahayaan. Di sinilah sentuhan kalbu (heart-to-heart) terjadi. Murid kelas tinggi mereka tidak butuh dihakimi. Mereka butuh ruang untuk jujur pada nuraninya sendiri.

Di bawah bimbingan guru yang mengalirkan narasi menyentuh tentang pengorbanan orang tua, kesalahan lisan mereka selama ini dan pengawasan Allah yang karib (muraqabah), ruangan akan riuh oleh isak tangis yang tulus dari mereka. Isak tangis itu adalah tanda bahwa air wudu spiritual telah bekerja membersihkan karat-karat digital di hati murid-murid kita.

Sumber: bangkapos
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved