Kamis, 28 Mei 2026

Tribunners

Refleksi Teologis-Pedagogis Manasik Haji Kelas Tinggi

Kita tidak lagi bisa bertahan dengan metode mengajar yang konvensional, dingin, dan berjarak.

Tayang:
Editor: suhendri
Istimewa/Dok. Tuti Erawati
Tuti Erawati, S.Pd.I. - Ketua KKG PAI Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur  

Oleh: Tuti Erawati, S.Pd.I. - Ketua KKG PAI Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur 

Paradoks pembiasaan karakter murid

DUNIA pendidikan hari ini sedang berkejaran dengan algoritma. Sebagai guru pendidikan agama Islam (PAI) di sekolah dasar, setiap hari kita berdiri di garis depan menyaksikan sebuah mutasi kultural yang masif. Murid-murid kita saat ini, yang dikategorikan sebagai generasi Alpha, hidup dalam ekosistem digital yang tidak pernah tidur. Mereka adalah digital natives yang mendiami dua dunia sekaligus yakni ruang kelas yang fisik dan ruang siber yang tanpa batas.

Namun, di balik kecepatan mereka mengadopsi teknologi, terdapat sebuah paradoks moral yang mencemaskan. Kemajuan zaman, gempuran game online dan adiksi media sosial perlahan tapi pasti mengikis tatanan perilaku dan verbal murid-murid kita. Di ruang kelas, kita tidak lagi sekadar menghadapi kenakalan murid-murid tradisional seperti membolos atau tidak mengerjakan tugas.

Tantangan guru kita saat ini jauh lebih laten, yaitu maraknya "bahasa toksik" (toxic language). Sangat mudah ditiru dari anak usiaa SD, ada pula penurunan rasa hormat (ewuh pakewuh), akibat paparan konten prank yang sangat kebablasan dan menjadi hal biasa. Hingga memunculkan ketidakstabilan emosi (agresivitas) akibat adanya stimulasi dopamin instan dari layar gawai yang digunakan murid kita.

Anak usia sekolah dasar secara psikologis berada pada fase peniru yang ulung. Mereka memiliki kemampuan merekam visual yang luar biasa, namun belum dibekali filter kognitif yang matang untuk memilah mana yang maslahat dan mana yang mudarat.

Dalam konteks ini, ceramah monolog di mimbar kelas atau doktrinasi tekstual semata telah kehilangan taringnya. Ketika guru berseru tentang kesabaran, namun layar gawai menyajikan kepuasan instan (instant gratification), maka narasi gurulah yang akan tersingkir.

Dengan demikian, penanaman karakter murid hari ini sangat membutuhkan sebuah lompatan metodologis dalam pembelajaran. Sebuah pembelajaran yang tidak hanya mampir di kepala sebagai hafalan ujian, melainkan menghujam ke dalam kalbu sebagai sebuah pengalaman eksistensial.

Relevansi teologis dan pedagogis momentum Zulhijah

Memasuki bulan Zulhijah, dunia Islam dihangatkan oleh narasi besar ibadah haji dan kurban. Bagi sebagian guru, materi haji kerap kali diperlakukan secara mekanistis-reduktif. Seperti materi rukun haji hanya dihafalkan saja, mulai dari urutan tempatnya, lalu dicatat dan mengerjakan soal-soal pilihan ganda dan selesai. Padahal ini adalah sebuah kerugian pedagogis yang sangat besar. Sebetulnya, rangkaian ibadah haji merupakan sebuah "laboratorium karakter" yang terbesar dalam sejarah peradaban manusia yang mencerminkan simbol-simbol teologis-psikologis.

Jika kita membedah khazanah sosiologi ibadah, setiap ritual dalam haji merupakan antitesis dari penyakit modernitas yang saat ini menjangkiti murid-murid kita. Kegiatan ibadah haji itu adalah simbol perjuangan umat manusia dalam melawan hawa nafsunya dan pembongkaran egoisme dirinya sendiri. Oleh karena itu, momentum ini harus direbut oleh guru-guru PAI untuk merekonstruksi metode pembelajaran.

Untuk murid kelas tinggi (kelas 4, 5, dan 6 SD), fase perkembangan kognitif mereka menurut Jean Piaget telah memasuki tahap operasional konkret menuju operasional formal. Mereka sudah mulai mampu memahami konsep abstrak, simbolisme, dan melakukan refleksi moral terarah. Melalui kesadaran inilah, sangat diharapkan guru-guru PAI bisa menggunakan teknik pendekatan yang kontekstual. Menggunakan metode role-play (sosiodrama) yang bertajuk "Manasik Haji Cilik Berbasis Refleksi Karakter Digital". Dapat dilakukan secara mandiri di sekolah kita, cukup di ruang kelas atau halaman sekolah kita.

Pertanyaannya adalah mengapa mesti di halaman sekolah atau ruang kelas kita? Karena kita ingin membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukanlah penghalang. 

Desain proses pembelajaran menjadi laboratorium jiwa

Pelaksanaan manasik haji cilik untuk kelas tinggi tidak boleh terjebak pada sekadar formalitas anak-anak mengenakan baju putih dan berputar-putar di sekeliling replika Ka'bah. Desain instruksionalnya harus diinjeksi dengan muatan reflektif yang mengonfrontasi tantangan riil mereka di dunia digital. Jika menggunakan ruangan kelas, cukup dibagi menjadi empat stasiun refleksi utama yang memanfaatkan setiap sudut kelas kita atau bisa menggunakan halaman sekolah kita.

Stasiun 1, miqat dan ihram sebagai dekonstruksi sombong digital 

Di sudut depan ruangan, kain ihram sederhana (menggunakan dua lembar handuk putih untuk murid laki-laki dan mukena putih untuk murid perempuan) dikenakan. Pada fase ini, guru tidak hanya mengajarkan cara melilitkan kain, melainkan membedah filosofinya. Pakaian ihram tanpa kantong dan bukan jahitan. Dengan demikian di hadapan Allah, seluruh jemaah berstatus sama tidak ada si kaya, si miskin, si pintar, atau si jelita.

Dalam konteks murid kelas tinggi, ini adalah momen untuk mendekonstruksi penyakit cyberbullying dan pamer (flexing) yang marak di media sosial. Guru memberikan penekanan: "Sekarang anak-anak perhatikan pakaian kalian. Semuanya sama putih, tidak ada yang memakai baju bermerek atau membawa gawai mahal. Jika di hadapan Allah kita semua sama, maka tidak pantas lagi setelah hari ini kita saling mengejek, merundung teman di kelas atau merasa lebih hebat dari orang lain baik di dunia nyata maupun medsos." Hal kecil yang dikatakan guru ini menjadi peletakan batu pertama berupa karakter rendah hati (tawadu) itu.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved