Tribunners
Refleksi Teologis-Pedagogis Manasik Haji Kelas Tinggi
Kita tidak lagi bisa bertahan dengan metode mengajar yang konvensional, dingin, dan berjarak.
Pembelajaran tidak boleh berhenti di sekolah. Keberhasilan manasik haji cilik ini wajib ditautkan ke ekosistem rumah melalui sinergi dengan orang tua murid. Dokumentasi proses kreatif dan momen kontemplatif murid-murid dikirimkan ke grup komunikasi orang tua, lengkap dengan pesan edukatif agar para orang tua menyambut perubahan perilaku anaknya di rumah dengan keteladanan yang serupa. Karakter murid kita tidak akan pernah tumbuh secara linier jika masaih ada jurang pemisah antara kesalehan mereka di sekolah dan ada kelalaian di rumah ataupun sebaliknya.
Pesan buat guru-guru Indonesia
Melalui tulisan ini, saya ingin mengetuk hati rekan-rekan sejawat, semua guru di seluruh penjuru Nusantara ini. Tantangan zaman mencerabut murid-murid kita dari akar moralnya dengan kecepatan yang sangat mengerikan.
Kita tidak lagi bisa bertahan dengan metode mengajar yang konvensional, dingin, dan berjarak. Jika teknologi mampu merenggut perhatian murid-murid kita dengan visualisasi yang memikat, untuk itu sebaiknya pembelajaran agama itu harus hadir dengan kreativitas yang tinggi dan jauh lebih memikat dan menggetarkan jiwa-jiwa murid kita.
Melalui metode pembelajaran role-play manasik haji cilik di ruang kelas atau halaman sekolah ini sebagai salah satu bukti akan keterbatasan sarana prasaran pembelajaran di sekolah kita bukanlah sebuah penghalang kita untuk melahirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi murid-murid kita. Yakinlah pembelajaran semacam ini murah secara biaya, namun mahal secara nilai.
Mari kita jadikan bulan Zulhijah ini sebagai momentum kebangkitan pedagogi profetik di sekolah-sekolah kita. Mari guru PAI, kita ubah halaman sekolah kita dan ruang-ruang kelas kita menjadi kawah candradimuka, yang tidak hanya melahirkan murid-murid yang cerdas secara kognitif saja, melainkan generasi yang memiliki ketahanan moral, berakhlak mulia (akhlakul karimah) dan bisa mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan oleh teknologi itu sendirI.
Selamat berjuang, guru-guru Indonesia! Keikhlasan dan kreativitas kita adalah investasi abadi bagi masa depan bangsa ini. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250414_Tuti-Erawati.jpg)