Rabu, 3 Juni 2026

IDI Babel dan Independensi MDP

Tidak Semua Pelanggaran Dokter Berujung Pidana

Seorang dokter terikat etik dan disiplin profesi. Meski begitu, tidak semua pelanggaran etik maupun disiplin otomatis menjadi perkara pidana.

Tayang:
Penulis: Erlangga | Editor: Fitriadi
Kolase TribunnewsSultra.com/Istimewa
Ilustrasi seorang dokter terikat etik dan disiplin profesi. Meski begitu, tidak semua pelanggaran etik maupun disiplin otomatis menjadi perkara pidana. 

“Yang menjadi gangguan kami itu, standar disiplin itu ukurannya apa, batasannya apa. Kalau hakim memutuskan orang bersalah ada pertimbangannya. Ini yang kami ingin jelas,” ujar dr Arinal.

Ia mengatakan situasi tersebut mulai memengaruhi cara dokter bekerja di lapangan, terutama ketika setiap persoalan medis berpotensi berujung laporan hukum.

“Kalau setiap ada masalah dokter langsung diproses pidana, langsung dilaporkan lagi dan lagi, tentu dokter jadi takut,” kata dr Arinal.

Menurutnya, kondisi itu membuat sebagian dokter mulai menerapkan defensive medicine atau praktik medis yang terlalu berhati-hati demi menghindari risiko hukum.

“Dokter akhirnya sedikit-sedikit dirujuk, sedikit-sedikit diperiksa lengkap. Karena takut disalahkan,” ujarnya.

Ia mencontohkan pasien dengan keluhan ringan pun kini berpotensi menjalani pemeriksaan berlebihan karena dokter khawatir terhadap konsekuensi hukum apabila terjadi komplain.

“Misalnya pasien demam biasa, karena takut dikomplain akhirnya semua diperiksa laboratorium lengkap. Padahal belum tentu perlu,” katanya.

“Kemudian biaya yang dikeluarkan juga besar dengan pemeriksaan tersebut,” sambungnya.

Menurut dr Arinal, pola kerja seperti itu muncul karena dokter merasa dituntut untuk tidak melakukan kesalahan sedikit pun dalam pelayanan medis. 

Ia menilai tekanan hukum terhadap profesi dokter juga dapat berdampak terhadap distribusi tenaga kesehatan, terutama dokter spesialis di daerah.

“Kalau ada dokter spesialis dipenjara atau diproses hukum di suatu daerah, dokter lain pasti berpikir ulang untuk datang,” katanya.

Menurutnya, daerah seperti Bangka Belitung masih membutuhkan banyak dokter spesialis sehingga situasi tersebut dapat berdampak panjang terhadap pelayanan kesehatan masyarakat.

“Ini efek domino. Orang jadi takut bertugas di daerah,” ujarnya. (x1)

Sumber: bangkapos.com
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved