Sabtu, 16 Mei 2026

Berita Viral

Ashari Nyamar Jadi Utusan Sang Guru tapi Akhirnya Warga Curiga

Kecurigaan warga memuncak saat Kiai Ashari mematikan seluruh lampu rumah dan meminjam motor pada dini hari.

Tayang:
Editor: Fitriadi
TribunSolo.com/TribunJateng.com/Mazka Hauzan Naufal
DITANGKAP - Kolase foto Ashari, kiai sekaligus pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Ndholo Kusumo di Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, saat diringkus polisi Kamis (7/5/2026).pagi. 

"Minta maaf katanya tidak diberi uang saku oleh gurunya, minta tolong tinggal sementara disini," ujarnya.

Sempat Mampir ke Masjid Tiban Bakalan

Menurut keterangan warga, Ashari tiba di Desa Bakalan pada Rabu (6/5/2026) selepas subuh. Seorang warga melihat Ashari berjalan sendirian menenteng tas.

Warga itu adalah Sidam (55) yang tak lain adalah warga yang mengantar Ashari ke Gedong Giyono. Saat pertama kali melihat Ashari, ia dan warga lain juga sempat menanyakan kemana tujuan Ashari.

"Katanya mau ke Makam Gedong, tanya jauh apa tidak saya jawab jauh. Bilangnya jalan kaki dari Purwantoro dan tidak punya uang saku," katanya.

Saat itu, Ashari bertanya berapa ongkos jika ngojek dari lokasi mereka bertemu yakni perempatan Desa Bakalan ke Gedong Giyono.

Kepada Ashari, Sidam menjelaskan bahwa ongkos ojek biasanya Rp 100-150 ribu.

Memang lokasinya cukup jauh, medannya curam dan rawan longsor.

"Dia bilang uangnya habis, minta tolong suruh mengantar nanti dibayar Rp 50 ribu. Saya itu awalnya mau ke sawah, tapi karena kasihan akhirnya saya antar," jelasnya.

Tujuannya waktu itu memang langsung ke rumah Tejo. Sampai sana Sidam langsung pamit tanpa sempat singgah ke rumah Tejo karena bergegas ke sawah.

"Saya juga tidak tahu, tahunya kalau buron Kamis siang, ternyata kasus di Pati itu. Saya tidak menyangka, niat saya mengantarkan saja," kata Sidam.

Selain itu, ia juga tak meminta bayaran ke Ashari. Niatnya saat itu ikhlas mengantarkan karena mendengar pengakuan Ashari yang kehabisan ongkos dari Semarang.

Saat itu, Ashari juga mengaku sempat mampir di Masjid Tiban Bakalan, namun tidak jadi karena tidak bisa membangunkan juru kuncinya.

"Tidak ada curiga apa-apa, wajahnya bagaimana saja tidak begitu hafal saya tidak terlalu memperhatikan. Tapi pas membonceng ke atas cukup berat, badannya cukup besar," pungkasnya.

Ditangkap Polisi

Pelarian Ashari, tersangka kasus pencabulan santriwati asal Pati, berakhir dramatis di lereng perbukitan sakral Wonogiri.

Selama pelariannya, pelaku mencoba menutupi jejak dengan berpura-pura sedang menjalani tirakat puasa dan sempat mencari motor bekas seharga di bawah Rp5 juta di diler setempat.

Kecurigaan warga memuncak saat pelaku mematikan seluruh lampu rumah dan meminjam motor pada dini hari, hingga akhirnya disergap polisi.

Gerak-gerik mencurigakan pria ini akhirnya tercium sebelum polisi melepaskan tembakan peringatan untuk mengakhiri pelariannya.

Ashari, tersangka pencabulan terhadap santriwati di Pondok Pesantren di Kecamatan Tlogowungu, Pati diamankan polisi dalam pelariannya ke Kecamatan Purwantoro, Wonogiri Kamis (7/5/2026). 

Lokasi persembunyian Ashari bukan tempat biasa.

Ashari memilih sebuah lokasi yang dianggap sakral oleh sebagian orang, yakni Gedong Giyono yang merupakan Komplek Makam Raden Gunungsari.

Menurut keterangan warga, lokasi yang terletak di Dusun Wotgalih, Desa Bakalan itu kerap dijadikan tempat "panyuwunan" atau tempat untuk meminta bagi yang punya hajat entah apapun itu.

Lokasinya berada di atas bukit, jauh dari pemukiman ramai warga, sekira 2 kilometer. Hanya ada beberapa rumah warga di dekat petilasan itu. Jalan menuju ke sana menanjak terjal dan berkelok.

Di sana, Ashari menginap di rumah warga bernama Tejo yang memang kerap digunakan para peziarah beristirahat. Jaraknya kurang lebih 200 meter dari petilasan tersebut.

(TribunSolo.com/Erlangga Bima) (TribunJateng.com/Raka F Pujangga)

Sumber: Tribun Solo
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved