Pelestarian Plasma Nutfah Babel Melalui Pendaftaran Varietas Lokal
ISTILAH sumberdaya genetik (plasma nutfah) bagi orang-orang yang awan merupakah istilah yang masih asing
Selain aspek ekonomis, pemanafaatan sumberdaya genetik juga memperhatikan aspek sosial yaitu dalam pemanfaatan sumberdaya genetik turut memperhatikan ketahanan pangan, ketehanan pangan sangat erat dengan ketahana sosial, stabilitas sosial, ketahanan nasional, serta stabilitas ekonomi. Aspek lingkungan berkaitan dengan upaya konservasi dan pelesatarian sumberdaya genetik .
Sumber daya genetik tanaman lokal atau yang disebut plasma nutfah khususnya di Bangka Belitung berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan dan terpublikasi jumlahnya sangat banyak dan tersebar di kabupaten-kabupaten di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Dalam buku Plasma Nutfah: Tanaman Potensial di Bangka Belitung (Eries Dyah Mustikarini, dkk, 2019) berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2019, terdapat berbagai sumberdaya genetik tanaman, baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan.
Pada komoditas tanaman pangan, sumberdaya padi lokal Bangka Belitung terdapat sebanyak 26 (dua puluh enam) aksesi. Akasesi adalah individu ataupun populasi tanaman dengan karakteristik yang spesifik dan berasal dari wilayah tertentu. Aksesi-aksesi padi di Bangka Belitung yaitu Balok, Damel, Seluman, Runteh, Pulut Merah, Unta Antu, Raden, Puteh, Mayang Pandan, Mayang Pasir, Mayang, anget, Mayang Duku, Mayang Grintil, Mayang Nibung, Runteh Puren, Balok Mas, Mayang N1, Mayang, Cerak Madu, Grintil, Balok Runti, Balok Lutong, Mayang Curui, Mukud Besak, Payak Tebing, dan Balok Lukan Jintan.
Penyebaran plasma nutfah padi terdapat di Desa Sempan, Pemali Kabupaten Bangka (Aksesi Raden dan Runteh Puren). Aksesi Mayang dan Cerak Madu ditemukan di Desa Lampur, Sungaiselan Kabupaten Bangka Tengah. Sedangkan aksesi Mayang Anget, Mayang Duku, Mayang Grintil, Mayang Nibung dan Balok Mas ditemukan di Desa Telak, Jebus Kabupaten Bangka Barat.
Selain Padi lokal juga terdapat sumberdaya genetik lokal Bangka Belitung yang telah teridentifikasi oleh penelitian sebelumnya seperti sumberdaya genetik Kacang tanah yang terdiri dari 9 (Sembilan) aksesi antaralain Sungailiat, Matras, Bedeng Akeh, Lubuk Kelik, Arungdalam, Belimbing, Jongkong, Aik Ketimba I dan Aik Ketimba II.
Plasma nutfah ubi kayu yang telah ditemukan terdapat 10 (sepuluh) aksesi tersebar di 2 (dua) kabupaten yaitu Kabupaten Bangka (aksesi Upang, Sekula, Bayel, Mentega, Pulut dan Selangor) dan Bangka Barat (aksesi Kuning, Batin, Sutera dan Rakit). Untuk tanaman talas (Araceae), dari hasil ekplorasi diperoleh sebanyak 27 plasma nutfah yang yang ada di Pulau Bangka, yang tersebar di Kabupaten Bangka Selatan (13 aksesi: Tungkuk, Sayur, Tran 1, Tran 2, Tran 3, Angit, Ganjung, Butir/Pikul, Pelawan Toboali, Wangi/Colet, Pak Ugo, Butir Mantaram dan Sayang Anak), di Kabupaten Bangka Tengah (4 aksesi: Sungai Tebuk, Alar, Rakit Hitam dan Pinangbo), di Kabupaten Bangka (8 macam: Rakit hijau, Hitam/Nyatoh, Cantik manis, Pelawan rukem, Kelat mentak rukem, Telok simbang dan Selaseh), dan di Kabupaten Bangka Barat ada 2 (dua) macam yaitu plasma nutfah Simbang dan Kelat mentak kelapa.
Komoditas lain yang telah dilakukan ekplorasi flasma nutfah adalah durian sebanyak 23 aksesi yang tersebar di Kabupaten Bangka Barat (11 aksesi), Kabupaten Bangka Tengah (5 aksesi), dan di Kabupaten Bangka Selatan (7 aksesi). Penyebaran flasma nutfah pisang ditemukan sebanyak 22 plasma nutfah yang tersebar di Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah dan Bangka Selatan.
Plasma Nutfah Cempedak (Artocarpus champeden) ditemukan sebanyak 20 aksesi cempedak lokal.
Hasil penelitian Rosita (2018), ditemukan sebanyak 12 aksesi flasma nutfah sukun yang tersebar di Pulau Belitung.
Aksesi Nenas sebanyak 10 aksesi ditemukan di Pulau Bangka yang tersebar di Kabupaten Bangka (8 aksesi) dan Bangka Selatan (2 aksesi). Penyebaran flasma nutfah manggis yang ditemukan di Pulau Belitung sebanyak 8 aksesi. Sedangkan penyebaran flasma nutfah lada ditemukan 4 aksesi lada lokal yang tersebar di Kabupaten Bangka dan Bangka Tengah.
Secara keseluruhan plasma nutfah yang telah diekplorasi oleh Tim Universitas Bangka Belitung berjumlah 171 aksesi. Dan sebagian besar dari eklporasi tersebut belum dilakukan tindak lanjut untuk upaya pelestariannya.
Semua sumberdaya genetik ini merupakan sumber daya yang harus di lestarikan mengingat pentingnya peranan dan manfaat setiap sumberdaya genetik lokal bagi kehidupan manusia.
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki sumberdaya genetik lokal seperti varietas lokal durian yang beberapa tumbuhan durian tersebut telah didaftarkan sebagai varietas lokal Bangka Belitung. Dari kategori hewan, Mentilin atau dalam bahasa latinnya yaitu Tarsius Bancanus sudah termasuk dalam sumber daya genetik lokal khas Bangka Belitung.
Berdasarkan data dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sumberdaya genetik lokal di Bangka Belitung yang sudah didaftarkan pada rentang waktu tahun 2018 samapi dengan tahun 2022 ke Pusat Pendaftaran Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVT-PP) Kementerian Pertanian RI sebanyak 34 (tiga puluh empat) aksesi varietas lokal. Sebanyak 29 (dua puluh Sembilan) aksesi sudah memiliki tanda daftar dan 5 (lima) aksesi masih dalam proses penerbitan tanda daftar dari PPVT-PP.
Sedangkan sumber daya genetik lokal yang sudah dilakukan ekplorasi dan deskripsi oleh UPTD Pengawasan dan Sertifikasi Benih Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, terdapat a 19 (sembilan belas) aksesi sumbersaya genetik lokal tanaman durian dan baru 1 (satu) yang sudah didaftarkan ke PPVT-PP yaitu Durian Klamunod dari Desa Belo Laut, Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20221217-siti-purwanti.jpg)