Opini
OPINI Masmuni Mahatma: Pemenang Sejati
Pemenang sejati adalah yang rasionalitasnya tertata dan terjaga, kematangan politiknya terarah, pemikiran dan sikap kebangsaannya terintegritas
Masmuni Mahatma (Wakil Rektor II IAIN SAS Bangka Belitung)
PEMILU tahun 2024 secara administratif, khususnya menyangkut pencoblosan dan rekapitulasi suara hampir rampung. Ada kejutan, makna, dan dinamika demokrasi yang di luar dugaan.
Sebab demokrasi kali ini disadari atau tidak, menyuguhkan beberapa kebaruan yang tidak ringan. Menggabungkan pemilihan Presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg), sama sekali bukan perkara mudah, bahkan dengan harga yang tidak murah.
Teriakan tentang indikasi ada kecurangan, rasanya memang sering kali mengemuka tiap Pemilu. Seakan menjadi ikutan naturalistik-demokratik. Atau tampak sebagai “bumbu” untuk terus menghangatkan jalannya kompetisi, pertarungan, pergulatan, dan “pertikaian politik” lima (5) tahunan ini.
Elit politik tentu lebih mafhum. konstituen, sebagian besar tidak lagi ambil pusing karena kewajiban menyalurkan aspirasi (suara) telah dilalui dengan baik dalam koridor langsung umum bebas dan rahasia (luber).
Demikian fenomenanya, selalu menanjak. Menghadirkan semacam ketegangan, kecemburuan, ketidakpuasan, dan tuntutan-tuntutan yang bisa jadi di luar nalar demokrasi.
Tuntutan yang lebih diwarnai getaran emosionalitas daripada rasionalitas berkontestasi dan berkompetisi. Tuntutan yang sesekali menampilkan kekerdilan dan kepicikan mengarungi pesta politik kebangsaan dan kemasyarakatan. Tuntutan yang dalam istilah tradisi filsafat, “kurang substansialistik,” bahkan jauh dari tipologi edukatif-produktif.
Esensi Demokrasi
Esensi demokrasi adalah keterlibatan dan kematangan rakyat dalam mewujudkan aspirasi dan kontribusinya menyangkut prosesi, tahapan, maupun pelaksanaan Pemilu. Bahkan dalam konteks demokrasi, suara rakyat merupakan kunci dan simbol kecenderungan kehendak Tuhan.
Tanpa keterlibatan rakyat, demokrasi hanya akan menjadi “sketsa” beku, gagasan pasif, ide yang tidak aspiratif, dan mungkin “kerangka” sosio-kebangsaan yang mati suri.
Dalam konteks demokrasi, peran sosial rakyat (konstituen) sangat sentral dan vital serta mahal. Demokrasi senantiasa milik rakyat, sebab awal dan ujungnya memang untuk memediasi sekaligus mengantarkan kehendak publik, bukan semata kepentingan elit politik.
Menjadi bagian pelaksanaan prosesi demokrasi, sejatinya mesti terus menjaga, mengawal, dan menumbuhkan aspirasi, harapan, serta mendewasakan perilaku politik kebangsaan. Tidak etis kalau hanya “mengompori” dan “mengipasi” rakyat lantaran kegagalan.
Memahami esensi demokrasi, merupakan “parfum” yang akan membuat tiap-tiap pelaku politik senantiasa tampil gairah, sehat, jernih, segar, dan tetap rasional. Tidak tiba-tiba emosional, secepat kilat negatif menyikapi kelemahan-kelemahan dan keterbatasan sistem demokrasi. Sehingga proporsionalitas dan akuntabilitas demokrasi dapat ditransformasikan semaksimal mungkin.
Kelemahan dalam pelaksanaan pesta demokrasi tidak lagi dikambing-hitamkan, melainkan bersikap lebih jujur, paradigmatik, obyektif, dan edukatif memberikan evaluasi di hadapan publik.
Menggali esensi demokrasi, mesti diiringi semangat mendandaninya sepenuh keterbukaan. Tanpa rumus ini, yang timbul mudah menyalahkan, gampang menyudutkan pihak di luar dirinya, parsialistik menganalisa, diwarnai kecurigaan dalam menyelami urutan dan irisan hasil pencoblosan.
| Dialektika Hukum dan Keadilan dalam Praktik Penegakan Hukum |
|
|---|
| Dunia Anak Tidak Sesederhana yang Kita Bayangkan: Belajar dari Film Na Willa |
|
|---|
| Waspada Lonjakan Kasus Campak di Indonesia: Alarm Kesehatan di Tengah Rendahnya Cakupan Imunisasi |
|
|---|
| Mengapa Organisasi Global Harus Berhenti Bergantung pada Pendekatan Satu Ukuran untuk Semua |
|
|---|
| Inklusi di Dunia Kerja Global: Antara Retorika dan Realitas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20231227-Masmuni-Mahatma.jpg)