Opini
OPINI Masmuni Mahatma: Pemenang Sejati
Pemenang sejati adalah yang rasionalitasnya tertata dan terjaga, kematangan politiknya terarah, pemikiran dan sikap kebangsaannya terintegritas
Dikira rakyat tidak punya “kesadaran.” Apapun tampilan dan kesimpulan yang ada, tidak pernah dianggap sah dan terus dicap salah. Seakan kebenaran hanya lahir dan berada diantara “kemauan” maupun “kepentingan” yang dipropagandakannya.
Pemenang Sejati
Demi mengawal dan menyehatkan demokratisasi berbasis kerakyatan, kita memerlukan pemenang sejati dalam tiap pertarungan dan pergulatan atau kontestasi (politik).
Pemenang sejati bukan hanya mereka yang sedang dan telah berkompetisi secara terbuka memburu kekuasaan politik. Juga bukan mereka yang menjadi “tim sukses,” “tim siluman” penabuh musik, biola, piano, pemetik gitar Pemilu dan pendulang suara di masing-masing tingkatan.
Pemenang sejati adalah siapa saja yang rasionalitasnya tertata dan terjaga, kematangan politiknya terarah, pemikiran dan sikap kebangsaannya terintegrasi dalam moralitas demokrasinya.
Pemenang sejati ini tidak akan pernah menempatkan pertarungan dan kegagalan sebagai “bencana” atau “kiamat kubro” dalam menata eksistensi dirinya. Pemenang sejati selalu sadar dan siaga bahwa pada momen setiap pertarungan, kontestasi, dan kompetisi, menang dan kalah itu memang realita.
Pemenang sejati senantiasa memiliki kesadaran kstaria berdemokrasi. Kesadaran yang tidak picik memaknai kontestasi dan kompetisi. Kesadaran yang tidak menjebak atau menyeretkan diri pada tarikan duniawiyah-partikularistik belaka, tetapi pelbagai ikhtiarinya dikembalikan pada garis takdir dari Allah SWT. Terlebih lagi, yang abadi dan cukup berharga bagi manusia, tegas Moh. Iqbal, salah satunya adalah bernama kesadaran.
Lebih jauh Moh. Iqbal menguraikan, bahwa tujuan akhir aktivitas manusia adalah keagungan, kegairahan dan kekuatan berbasis kesadaran. Bukan semata ambisi kuasa dan manipulasi kepentingan.
Dari kekuatan (kesadaran), manusia akan diperhitungkan menghadapi dan mengatasi pelbagai dinamika sosial kemasyarakatan. Sebab kedewasaan dan kearifan, dalam perspektif kekhalifahan mesti terus menerus menjadi pilihan pemikiran maupun sikap kemanusiaan sekaligus demokrasi berkebangsaan.
Demokrasi, kata Al-Farabi (Yamani : 2002), merupakan wujud keberadaan masyarakat yang konsen atau istiqamah atas kebebasan, tidak suka pengekangan, senantiasa bertolak pada kehendak (aspirasi) nya.
Tiap individu yang mengaku mampu berdemokrasi, tegas Al-Farabi, tidak boleh sekali-kali larut dalam kepentingan kelompok tertentu, apalagi ambisi pribadi yang jauh dari koridor kolektif.
Mereka harus menjadi pemenang sejati. Sebab politik kata Aristoteles, adalah etika sosial berbasis aspirasi publik, bukan tendensi personalitas berlebih, termasuk karena kalah berkompetisi. (*/E1)
| Dialektika Hukum dan Keadilan dalam Praktik Penegakan Hukum |
|
|---|
| Dunia Anak Tidak Sesederhana yang Kita Bayangkan: Belajar dari Film Na Willa |
|
|---|
| Waspada Lonjakan Kasus Campak di Indonesia: Alarm Kesehatan di Tengah Rendahnya Cakupan Imunisasi |
|
|---|
| Mengapa Organisasi Global Harus Berhenti Bergantung pada Pendekatan Satu Ukuran untuk Semua |
|
|---|
| Inklusi di Dunia Kerja Global: Antara Retorika dan Realitas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20231227-Masmuni-Mahatma.jpg)