Senin, 8 Juni 2026

Jamaah Islamiyah Bubar

Sejarah Panjang Jamaah Islamiyah, dari Abdullah Sungkar Hingga Organisasinya Bubar

Jamaah Islamiyah di bawah Abdullah Sungkar saat itu telah menjelma menjadi gerakan yang berjuang untuk tegaknya hukum Islam secara lebih luas.

Tayang:
Editor: fitriadi
Tribunnews.com
Tokoh paling senior Jamaah Islamiyah (JI), Abu Rusydan, didampingi hampir semua tokoh utama organisasi JI, saat membacakan Deklarasi Sentul 30 Juni 2024. Deklarasi itu berisi pernyataan JI bubar atau membubarkan diri dan islah dengan aparat keamanan dan pemerintah NKRI. 

Paling fenomenal adalah pembajakan pesawat Garuda DC-10 Woyla oleh kelompok Imran yang mendarat dan pembajakan diakhiri di Bandara Don Muang, Bangkok.

Rangkaian aksi teror bernuansa ideologis ini berlangsung antara tahun 1976 hingga 1981, yang kemudian melahirkan teori konspirasi andil rezim Orde Baru di balik peristiwa ini.

Gerakan-gerakan disertai kekerasan itu merupakan perlawanan terhadap nasionalisme dan pemerintahan Indonesia yang juga menciptakan asas tunggal dalam politik.

Tak hanya di Jawa Barat, di Solo pada 1977 muncul nama Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir. Keduanya dituduh mengkampanyekan golput atau golongan putih di Pemilu saat itu.

Keduanya ditangkap dan ditahan aparat keamanan khusus pemerintah Indonesia. Tak berselang lama, keduanya kembali ditangkap atas tuduhan menentang dasar negara Pancasila.

Namun jauh sebelum itu, Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir mulai dikenal saat mendirikan Pondok Pesantren Al Mukmin di Ngruki, Cemani, Sukoharjo.

Mereka mendirikan pesantren itu bersama sejumlah tokoh lain yang tergabung di simpul organisasi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang didirikan Mohammad Natsir.

Benih ideologis menguat di tempat ini, yang kemudian identik dengan pergerakan NII warisan Kartosoewirjo.

Inilah yang membuat Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir harus berhadapan dengan pemerintah dan apparat keamanan Indonesia.

Sesudah ditangkap dan ditahan sejak 1983, keduanya divonis 9 tahun penjara pada 1985. Kasusnya naik ke kasasi dan mereka dikenai tahanan rumah.

Di saat itulah, Abdullah Sungkar alias Abdul Halim dan Abu Bakar Baasyir alias Abdus Somad hijrah ke Kuala Pilah Negeri Sembilan, sebelum pindah ke Johor Bahru, Malaysia.

Mereka kelak mendirikan madrasah Luqmanul Hakim, dan dari titik inilah pada tahun 1993 Abdullah Sungkar mendirikan pergerakan baru Al Jamaah Al Islamiyah atau JI, sekaligus memimpinnya.

Kelahiran JI tak terlepas dari konflik elite jamaah NII, yang kemudian memisahkan tokoh-tokoh asal Ngruki dari kelompok NII Ajengan Masduki yang berbasis di Jawa Barat.

Pernyataan infishol itu secara formal mengakhiri hubungan dengan NII Jawa Barat, dan menjadi titik awal Jamaah Islamiyah.

Namun sebelum Jamaah Islamiyah eksis, mengerucut sebagai organisasi dengan struktur yang lengkap, kelompok Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir telah membangun jaringan dengan kelompok mujahidin di Afghanistan.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved