Tribunners
Lingkungan yang Membentuk Masa Depan Anak: Menghadapi Tantangan dan Menghapus Stigma Sosial
Perkembangan anak tidak hanya dipengaruhi oleh pendidikan formal, tetapi juga oleh lingkungan sosial, keluarga, dan pendidikan.
oleh: Ardita, M. Bagas Prasetyo, Nadilla Nur Hafizah, Najwa Nurul Izzah, Nazila Safitri, Raafi Nur Rahman, Rahmat Fauzan, Sakira Septy Wahyuningsih - Mahasiswa/i S1 prodi Kesehatan Masyarakat di Universitas Sriwijaya
PERKEMBANGAN anak tidak hanya dipengaruhi oleh pendidikan formal, tetapi juga oleh lingkungan sosial, keluarga, dan pendidikan. Lingkungan yang positif mendukung pola pikir yang sehat, begitupun sebaliknya.
Widyastutik C, dalam buku Makna Stigma Sosial Bagi Disabilitas Di Desa Semen Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi, menjelaskan bahwa stigma sosial adalah bentuk reaksi sosial dari masyarakat kepada seseorang dimana orang tersebut dikucilkan dan tidak mendapatkan penerimaan sosial.
Stigma sosial yang terbentuk pun seringkali dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat tinggal.
Lingkungan sebagai faktor penentu masa depan anak
Lingkungan keluarga, sosial, dan pendidikan adalah faktor utama yang membentuk masa depan anak. Kegiatan kolaborasi mahasiswa Unsri dan siswa SMA Sumsel menciptakan lingkungan yang positif dan suasana belajar yang berbeda seperti yang disampaikan dari salah satu anak di sana.
“Adik “N” yang mengungkapkan perasaan antusiasnya ketika bertemu kakak-kakak dalam belajar bersama sambil bernyanyi, namun terhalang oleh keterbatasan waktu. “Seru kak, kakak-kakaknya baek galo, galak ngajarin galak ngajak nyanyi. Tapi kakak nya cuma hari minggu be kesini”
Seperti yang disampaikan adik “N” ia memiliki harapan ingin belajar bersama dengan cara yang kreatif dan dalam waktu yang relatif lama. Sikap positif adik “N” terbentuk karena pola asuh keluarganya yang baik sehingga anak seperti adik “N” berhak untuk mendapatkan masa depan yang cemerlang.
Pengalaman stigma sosial yang dihadapi anak
Pada Kegiatan yang kami laksanakan bersama dengan SMA Sumatera Selatan kami melihat bahwa adanya stigma sosial yang didapatkan pada anak-anak. Seperti yang diungkapkan oleh adik “A” yang mempunyai rasa takut dibully. Perasaan takutnya dihadapi dengan kegiatan sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu walaupun dirinya belum duduk di bangku sekolah. Perasaan takutnya hanya dapat adik “A” balas dengan diam.
“Belum kak, tapi mau belajar biar dak diketawain kalo dak biso ngitung”
“Diem aja”
Sedangkan adik “L” memiliki stigma negatif untuk temannya. Adik “L” yang mempunyai stigma negatif atau pelabelan negatif terhadap teman sebayanya. Stigma negatif ini muncul karena melihat rekan sebayanya yang selalu mencari masalah sehingga timbul pikiran negatif kepada temannya. Stigma sosial ini termasuk dalam indikasi bullying yang berdampak negatif pada anak.
“Si “I” sering berantem kak, nakal suka marah-marah” “Bukan temen aku kak, dak mau temenan sama anak nakal”
Perlu kita ketahui Stigma sosial berdampak negatif pada anak terutama hubungan sosial. Anak yang mengalami diskriminasi lebih rentan terhadap kecemasan dan menurunnya kepercayaan diri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20241204_Ardilla-Mahasiswi-Unsri-01.jpg)