Manusia Pramuka

Kemah Pramuka Madrasah Nasional (KPMN) tahun 2024 memiliki beberapa sentuhan yang patut diselami dan diapresiasi

ISTIMEWA
Masmuni Mahatma - Kakanwil Kemenag Bangka Belitung 

Tidak saja pada level nasional, di berbagai daerah (regional) juga mulai menggalakkan (ke)Pramuka(an). Bahkan belakangan ada yang dimitrakan bersama Satuan Komunitas Pandu (SAKO) Lembaga Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) yang secara visi maupun misi luhurnya tidak jauh beda dengan orientasi ideal (ke)Pramuka(an).

Lagi-lagi ini merupakan bukti sejatinya pendidikan berbasis karakter, seperti yang termaktub dalam semangat Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka, cukup rasional dan urgen untuk kembali diterapkan dan diinternalisasi dari dan untuk keilmuan, keimanan, sekaligus keterampilan hidup siswa-siswi madrasah.

Pramuka madrasah, bukan sekadar meniru latah atau memenuhi tuntutan ekstrakurekuler biasa-biasa saja.

Jauh di balik itu, Pramuka madrasah harus dikentalkan selaiknya medium untuk mencetak dan melahirkan anak-anak didik yang lincah, terampil, berskill handal, dan kelak menjadi manusia pramuka kebanggaan. Yakni manusia yang sadar betul jalur dan alur sosio-kehambaan di hadapan semesta.

Manusia yang bukan semata terampil dalam urusan berkreasi di tengah hutan, berinisiasi di pusat lapangan, berinovasi di tanah lapang, kebun, pingggir pantai dan lain-lain dalam rangka mengisi waktu perkemahan.

Akan tetapi, manusia yang sungguh jujur mengaktualisasikan dirinya sebagai khalifah, pembawa kabar gembira, solusi dan cahaya kehidupan bagi setiap makhluk Tuhan. 

Dalam bahasa yang lebih sederhana, siswa-siswi madrasah yang didandani dengan baju dan lipstik (ke)Pramuka(an), seyogianya menjadi manusia teladan siap tanding, terutama dalam konteks karakter, mentalitas, produktifitas, dan ketercerahan diri.

Mereka harus sehat secara jasmani, rohani, pemikiran, sikap, komunikasi, interaksi, dan dedikasi. Mesti tampil terampil secara keilmuan dan keimanan, minimal menjadi inspirator dan kreator berbasis religiusitas-spiritualitas universal dalam seluruh ruang-ruang sosial.

Mereka tidak boleh sedikit pun mendistorsi, mendegradasi, dan mendelegitimasi amanah serta nilai-nilai etik kenabian yang diteladankan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Sehingga dari dan untuk stabilisasi kehidupan, mereka merupakan tumpuan harapan dan keberkahan seluruh makhluk Tuhan. (*/E1)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved