Senin, 18 Mei 2026

Tribunners

Orang yang Miskin

Menjadi orang miskin bukan pilihan. Sebaliknya, menjadi orang kaya merupakan status, predikat, dan eksistensi yang terus dikejar dan diwujudkan

Tayang:
Istimewa
Oleh Masmuni Mahatma, Ketua Tanfidziyah PWNU Kepulauan Babel dan Kepala Biro AAKK UIN Imam Bonjol Padang 

Oleh Masmuni Mahatma, Ketua Tanfidziyah PWNU Kepulauan Babel dan Kepala Biro AAKK UIN Imam Bonjol Padang

MENJADI orang (yang) miskin, tentu tidak pernah dicita-citakan kebanyakan manusia dari warna kulit dan kultur apa saja. Sama sekali bukan hal yang diinginkan.

Lumrah dan mengemuka. Siapa pun dari kalangan manusia, sebagai personal atau komunal, harapan prospektifnya pasti menjadi dan senantiasa tampil sebagai orang kaya. 

Menjadi orang miskin bukan pilihan. Sebaliknya, menjadi orang kaya merupakan status, predikat, dan eksistensi yang terus dikejar dan diwujudkan.

Apakah ini searah orientasi fitrah manusia, sepertinya tergantung perspektif sosial yang dipakai. Terlebih kita dilahirkan memang tidak memiliki kuasa dan kekayaan sebiji dzarrah pun.

Nama saja yang dilekatkan pada diri masing-masing manusia, juga merupakan pemberian di luar diri. Bukan bawaan dari alam rahim. Bukan juga kepunyaan azali tiap manusia.

Benar-benar manusia itu lahir-hadir dalam kondisi yang biasa-biasa, tidak membawa sedikit pun “kekayaan.”

Semua karena karunia dan kasih Allah SWT menghadirkan kita ini ke alam dunia demi transformasi nilai-nilai uluhiah-Nya.

Takdir awal manusia sebagai abdun, hamba, berlanjut ke maqam khalifah-Nya. Tugas dan fungsi otentik yang tidak pernah mudah, membutuhkan totalitas mentalitas amanah yang kaffah. Demikian takdir mula tiap-tiap diri di muka bumi yang luas ini.

Sekira banyak di antara manusia yang masih “dilematis” memahami dan menjalani realitas takdir kemiskinan dalam hidup, bisa dimaklumi. Amat naturalistik.

Namun demikian, bila sebagian diri berputus asa atau malah menyesali takdir sebagai orang (yang) miskin sekaligus menyalahkan Allah SWT atas kondisi tersebut, kurang elok dan tidak etis dalam konteks kehambaan.

Sangat parsialistik dan tidak edukatif. Ini riskan dari aspek pertumbuhan keimanan dan ketakwaan. Mengandung risiko, bisa-bisa mendistorsi kuasa dan kasih luhur Ilahi Rabbi yang begitu terang sepanjang hidup. Sama sekali juga tidak konstruktif dan jauh dari kerangka produktif. 

Fitrah Manusia

Selaku makhluk, hamba yang “dilahirkan” Tuhan, fitrah manusia jelas hanya taat, patuh, tunduk, dan berserah penuh kepada-Nya. Apalagi terkadang kehadiran dan keberadaan manusia bukan otomatis “dikehendaki” Tuhan, melainkan sebagian besar “diinginkan” oleh pasangan manusia itu sendiri.

Tidak bisa dimungkiri. Bahkan dalam dunia nyata, tak sedikit pasangan manusia yang sampai melakukan ikhtiari optimal agar dapat melahirkan regenerasi (keturunan) tanpa melihat dan mempertimbangkan kondisi riil mereka di pentas sosial kehidupan.

Ikhtiari manusiawi ini pun tidak selalu sesuai dengan “optimisme” kebanyakan mereka sebagai hamba.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved